10 Cara Ini Bantu Orangtua Tentukan Potensi Anak

Setiap orangtua pasti berharap anaknya bisa menjadi seorang yang berguna dan sukses. Namun, apakah definisi berguna dan sukses bagi orangtua sama dengan definisi berguna dan sukses bagi anak?

Ada juga sebagian orangtua yang merasa anak-anaknya sulit diarahkan dan tidak berkembang secara maksimal. Orangtua perlu tahu bahwa ada beberapa faktor yang mempengaruhi hal tersebut yakni;

 

1. Orangtua tidak boleh merasa selalu benar

Sebagai media tumbuh kembang, keluarga (dalam hal ini orangtua) wajib memberi contoh yang baik dan menunjukkan sikap yang tidak egois dan mau menang sendiri.

Jika anak menegur karena memang orangtua berbuat salah, maka akuilah dan introspeksi diri, bukan malah menyalahkan anak dan bersikap seperti seorang penguasa yang otoriter.

Jika terus dididik dengan cara yang demikian, mental anak bisa menjadi mental yang egois dan bisa jadi anak akan bersikap kepada orangtuanya kelak di masa-masa tua seperti ketika ia dididik semasa kecil.

Sadarilah bahwa sekali pun telah menjadi orangtua, kita tetap manusia yang juga tidak luput dari kesalahan.

2. Syukuri anak sebagai karunia terbesar

Anak adalah amanah yang Allah berikan bagi orangtua untuk dijaga, dirawat, ditumbuhkan dengan cinta, kasih sayang, dan keikhlasan. Anak menjadi penerus perjuangan orangtua.

3. Buatlah dia merasa dicintai, dikasihi, dan disayangi

Anak akan merasa nyaman, terlindungi jika orang tua selalu menyayanginya, melindunginya, menolongnya dan selalu ada disampingnya jika anak dalam kondisi membutuhkan. Buat perasaan anak nyaman dan benar-benar mencintai orang tua dan merasa dicintai pula.

4. Pahami dan hargai setiap anak sebagai individu yang unik

Jangan pernah meminta/menuntut anak untuk menjadi orang lain. Tidak dengan teman-temannya, sepupu, bahkan saudara kandung. Ketika orangtua membandingkan anak, maka itu sama dengan orangtua ingin anaknya tidak menjadi dirinya sendiri.

“Wahai Kaum Muslim, didiklah anak-anakmu sesuai dengan zamannya karena mereka hidup bukan di zamanmu.\” (Ali bin Abi Thalib)

Kebiasaan membanding-bandingkan anak dengan orang lain dapat membuat anak menjadi terbebani dan pada tahapan yang ekstrim bisa membuat anak krisis identitas dengan berusaha menjadi seperti orang yang dibandingkan dengannya.

Orangtua harus memahami bahwa setiap anak memiliki potensi masing-masing yang harus diperlakukan berbeda.

5. Bangkitkan minat dan motivasi belajarnya

Dampingi anak dalam setiap momen berharganya sehingga keberadaan orangtua akan membuatnya lebih semangat dan merasa bahwa dirinya penting/berarti. Dukung setiap keinginan anak selama tidak menyalahi syariat Islam.

Bentuk dukungan dapat berupa moril, waktu, tenaga, dan uang. Dukungan terhadap keinginan atau cita-citanya merupakan bentuk motivasi dari orangtua bahwa segala sesuatu yang dilakukan oleh sang anak didukung penuh.

6. Beri kesempatan untuk memilih dan membuat keputusan

Orangtua seringkali punya keinginan yang berbeda dengan anak lalu dengan sadar atau tanpa sadar memaksa dan mengarahkan anaknya sesuai dengan keinginan mereka. Padahal anak bisa saja tidak tertarik pada keinginan atau minat orangtua.

Orangtua di kawasan Asia, cenderung mendidik anak dengan keras karena percaya bahwa disiplin akan membuahkan hasil dan anak-anak harus diarahkan agar tidak bernasib sama seperti orangtua atau paling tidak bisa jadi lebih baik dari orangtuanya.

Sedangkan orangtua di kawasan Eropa, cenderung memberi kebebasan dan mendukung tumbuh kembang anak sesuai dengan bakat dan hobi mereka, bahkan mempersiapkannya sedini mungkin.

Tidak ada yang salah dengan metode Asia atau Eropa, semua punya keunggulan dan kekurangan. Namun, alangkah bijak jika kita dapat menerapkan kedisiplinan, tetapi tetap mendukung dan menghormati keputusan anak kita.

7. Doronglah anak mencari informasi di luar rumah

Anak harus belajar mandiri. Didik anak untuk bisa mencari informasi dan bersemangat melakukannya tanpa bantuan orangtua. Dorong anak agar tidak sungkan untuk belajar, menimba ilmu selain dari sekolah dan rumah.

Antarkan anak, temani setiap aktivitas baiknya agar ia tidak merasa sendiri dan selalu mendapat dukungan dari keluarga.

8. Jangan matikan harapan dan cita-cita anak

Let them choose their path. Sebagai orangtua yang baik, kita hanya perlu mengawasi dan mendukung, serta memberi nasihat.

Mengembangkan anak sesuai potensi dan minat mereka akan membantu proses penemuan jati diri dan mengurangi resiko penyesalan dan kegagalan. Jangan sampai mereka gagal karena menuruti paksaan orangtua dan kemudian orangtua menjadi disalahkan. Hal tersebut bisa memberi tekanan dan menghambat proses pengembangan dan pencarian jati diri seorang anak.

9. Tunjukkan penghargaan dan penghormatan kepada semua usahanya meski tampak sepele

Apresiasi adalah hal yang kadang tidak mudah dilakukan oleh para orangtua. Bahkan termausk sering sulit dilakukan karena anggapan anak kecil belum paham, itu hal biasa, dll.

Padahal, apresiasi akan membuat sang anak menjadi percaya diri, merasa dirinya berharga bagi keluarganya, prestatif, dan tidak mudah menyerah.

10. Jalin hubungan yang kondusif antara orangtua, sekolah, dan lingkungannya

Kontrol orangtua terhadap perkembangan anak harus dilakukan secara holistik, mulai dari hubungan orangtua dengan guru, orangtua dengan teman-teman si anak, apalagi hubungan paling penting antara orangtua dengan si anak itu sendiri.

Jalin silaturahim yang baik antara orangtua dan guru agar perkembangan anak di sekolah dapat terpantau dengan baik, di luar perkembangan akademik. Sebab, ada potensi sosial yang harus diperhatikan oleh orangtua.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *