Dasar penting menjadi seorang penulis adalah kekayaan ide dan kemampuan membuat cerita dengan alur yang menarik. A good writer is a good storyteller.

Kemampuan ini sudah bisa diasah sejak anak sudah cukup lancar berbicara, sekitar usia tiga tahun atau tingkat prasekolah.

Cara stimulasinya pun tidak rumit. Sebuah kebiasaan sederhana berupa dongeng atau cerita sebelum tidur bisa menjadi metode pelatihan yang patut dicoba.

Setidaknya, ada 15 kebiasaan yang harus diperhatikan oleh orangtua jika ingin anak-anaknya mampu menulis sejak kecil. Jika terus dibudayakan, dilatih, maka anak akan mampu menerbitkan buku karyanya sendiri.

1. Modifikasi cerita sebelum tidur

Coba modifikasi bedtime stories session dengan menanyakan pendapat anak tentang cerita atau tokoh-tokohnya. Selain itu, minta anak membuat lanjutan cerita sendiri, atau sesekali bergantian dengan anak yang menjadi si pencerita.

Kunci suksesnya, berpikirlah terbuka. Beri apresiasi terhadap setiap respons dan ide anak, meskipun ceritanya terdengar konyol atau tidak masuk akal. Tak ada yang punya fantasi menarik dan antimainstream selain anak-anak itu sendiri.

2. Gunakan gambar sebagai pencetus ide cerita anak

Minta anak untuk bercerita, membentuk alur yang teratur. Sebagai awal, bisa gunakan rumus 5W + 1H: who (siapa saja karakter/tokoh cerita dan seperti apa sifatnya), when (latar waktu cerita), where (latar tempat cerita), what (masalah atau konflik dalam cerita), why (mengapa masalah tersebut terjadi), dan how (bagaimana masalah dapat diselesaikan).

Kenalkan dahulu penceritaan dengan alur maju, supaya anak tidak bingung. Alur maju terdiri atas perkenalan atau pembukaan, adanya konflik atau masalah, klimaks saat konflik mencapai puncaknya (alias bagian paling seru dari cerita), dan penyelesaian di mana konflik terselesaikan.

3. Latih anak menyusun kerangka karangan

Saat anak sudah bisa fasih bercerita lisan, perkenalkan anak untuk membuat kerangka cerita secara tertulis. Caranya? Gunakan mind map.

Mind map atau ‘jejaring ide’ adalah diagram kumpulan ide-ide yang dibentuk dari kata-kata kunci, disusun dari kata yang bersifat umum menjadi hal yang lebih detil atau spesifik. Formatnya bisa berupa kumpulan kata, atau gambar.

Mind map dapat digunakan mulai dari menyusun dasar cerita (menggunakan acuan 5W + 1H tadi), pembuatan tokoh dan karakterisasinya, sampai alur cerita (perkenalan, konflik, klimaks, penyelesaian).

Satu hal penting, biasanya anak lebih mudah mengungkapkan pikiran melalui visualisasi, baik gambar maupun konkret. Jadi, selalu gunakan gambar, foto, video, atau barang nyata sebagai alat bantu ajar.

4. Perkenalkan Anak dengan Kata Bantu

Perkenalkan anak dengan kata-kata bantu yang menjadi inti cerita. Tunjukkan juga persamaan kata (sinonim) atau kata-kata lain yang dapat menjadi padanannya serta kapan padanan tersebut dapat disematkan dalam kalimat.

Di sini kita memperkaya perbendaharaan kata (vocabulary) mereka dan membuat pilihan kata menjadi bervariasi sehingga cerita lebih menarik saat dibaca.

Kamus, baik buku ataupun elektronik, baiknya disiapkan untuk membantu anak mencari makna kata. Jika perlu, gunakan juga kamus idiom atau ungkapan, khususnya bagi anak usia sekolah dasar yang sudah mulai mempelajari materi bahasa yang lebih kompleks.

5. Beri Batas Jumlah Kata dan Kalimat

Berikan batas jumlah kata atau kalimat saat anak belajar menulis cerita. Tujuannya agar anak berlatih untuk mengatur cerita supaya cukup terjelaskan. Namun, juga tidak dipanjang-panjangkan. Padat dan menarik. Cerita seperti ini yang menggoda minat untuk membacanya, bukan?

Pendekatan yang keliru di banyak sekolah adalah anak dikritisi berdasarkan hal teknis dan tata bahasa. Akibatnya, mereka terfokus pada benar-tidaknya penggunaan huruf kapital, tanda baca, dan kawan-kawan, tanpa menggali ide dan memperkaya pilihan kata.

Oleh karenanya, setelah anak lancar membuat cerita barulah diajarkan hal-hal teknis seperti huruf kapital, tanda baca, struktur kalimat, dan aneka tata bahasa lainnya.

Selain itu, seorang penulis akan menjadi semakin baik kemampuannya saat ia rajin membaca berbagai sumber referensi. Semangati anak untuk menumbuhkan kebiasaan membaca buku.

Satu buku satu hari. Panjang atau pendek, selesai atau tidak selesai, bukan persoalan. Akan lebih baik lagi jika anak melahap berbagai genre tulisan, baik fiksi maupun non fiksi, dari berbagai jenis penulis, termasuk penulis-penulis muda seusia mereka.

6. Tumbuhkan kecintaan dan kebiasaan membaca pada diri anak

Ini salah satu hal terpenting yang bisa Anda lakukan untuk menjamin agar mereka menjadi penulis yang baik. Orang yang keranjingan membaca menjadi akrab dengan teknik-teknik yang digunakan penulis yang baik.

Anak memerlukan teladan, yakni dengan membaca. Semakin banyak mereka membaca, semakin matang berkembangnya rasa kebahasaan mereka.

7. Dukunglah selalu tulisan anak

Dalam setiap tulisan, pastilah ada sesuatu yang dapat Anda puji. Sebuah hasil karya anak, tulisan misalnya, tentu ada yang baik dan ada yang kurang baik. Mereka telah berusaha memberikan yang terbaik dalam tulisannya.

Mereka mau mencoba dengan kemampuan yang mereka miliki dan itulah hasilnya. Kita harus dapat menghargai apa yang mereka usahakan.

Lihatlah prosesnya, nilailah prosesnya dan jangan hanya menilai hasilnya saja. Baik atau buruk tulisan anak, kita harus memberikan penghargaan dengan memberikan pujian.

Hal ini dilakukan sebagai cara untuk memberikan dukungan dan memberikan semangat kepada anak. Memberikan motivasi kepada mereka supaya menghasilkan tulisan-tulisan yang lebih baik lagi.

8. Tawarkan saran dan kritik kepada anak hanya kalau mereka sudah menjadi penulis yang terampil dan percaya diri

Pemberian saran dan kritik ini diberikan secara personal karena tidak semua anak dalam ruang kelas itu mempunyai potensi menulis yang sama.

Guru dapat melakukan pendekatan pribadi terlebih dahulu, kemudian tanyakan dengan perlahan dan dengan kata-kata yang tidak membuatnya tersinggung.

9. Hargai privasi anak

Janganlah membaca tulisan tanpa seizinnya. Tunjukkan saja bahwa orangtua tertarik pada tulisan anak. Tanyakan lebih dulu apakah ingin orangtua membacanya, dan jangan memaksa. Jangan pula mencuri-curi baca.

10. Hargai pendapat anak

Pada saat orangtua jelas-jelas tidak bisa menyetujui apa yang diucapkan atau ditanyakan anak, orangtua harus mendengarkan anak dengan hormat—alasannya bermacam-macam, tetapi juga untuk membantu anak menjadi penulis yang lancar dan percaya diri.

11. Jangan menuntut kesempurnaan

Ketika anak baru belajar dan berlatih membuat tulisan, jangan terburu-buru mengharapkan apalagi menuntut kesempurnaan.

Ketika mereka merasa sebuah tulisan harus sempurna, hal itu tidak hanya menyingkirkan kreativitas dan keceriaan, tetapi kadang menghasilkan kelumpuhan besar bagi penulis.

12. Jangan menyensor tulisan anak

Tulisan yang betul-betul tidak dapat diterima biasanya hanya musiman. Ketika anak-anak sudah mulai mau membuat tulisan, jangan membatasi apa yang ingin mereka tulis.

Biarkan mereka menulis tentang imajinasi mereka. Tentang manusia super, kerajaan luar angkasa, kematian, atau mungkin pembunuh yang keji.

Jika menunggu masa ini terlewati, masa tersebut akan berakhir juga. Semakin tenang orangtua, semakin mungkin anak berlanjut ke tulisan yang lebih serius.

13. Sadarilah bahwa anak mempunyai selera menulis yang berbeda-beda, seperti halnya selera membaca

Doronglah anak untuk menulis apa yang mereka senangi. Tidak menjadi masalah apa jenis tulisan anak-anak. Semakin banyak tulisan yang dibuat, apa pun jenisnya, semakin cakaplah anak.

14. Jangan ajarkan tata bahasa kepada anak ketika baru mulai menulis

Sebagian besar pengetahuan ketatabahasaan bersifat berkembang sehingga dikuasai oleh anak-anak sedikit demi sedikit daripada dipelajari langsung. Ingatlah selalu bahwa anak-anak secara alami belajar berbicara dalam bahasa yang mereka dengar.

15. Disiplin dan Konsisten

Keberhasilan sebuah pendidikan dan pembelajaran bukan hanya tanggung jawab guru atau pihak sekolah semata, namun pihak keluarga atau orangtua juga sangat memiliki pengaruh yang luar biasa.

Rutinkan melatih anak jika ingin mendapatkan hasil maksimal dan optimal. Konsisten dan disiplin terhadap apa yang hendak diperjuangkan sehingga pada akhirnya membaca dan berlatih menulis menjadi kebiasaan bagi anak.

***

Menjadi seorang penulis andal, perlu proses dan kerja keras, meskipun bukan hal mustahil. Dengan lahirnya banyak penulis cilik dan muda, angin segar kebangkitan sastra Indonesia niscaya akan berhembus sejak kini.