Tanggal 23 Juli kemarin, Indonesia baru saja memperingati Hari Anak Nasional. Pemerintah mengadakan perayaan hari tersebut di Pekanbaru. Seperti dikutip dari tribunnews.com, menurut Kementerian PPPA, peringatan itu dilakukan sebagai bentuk kepedulian pemerintah terhadap perlindungan anak Indonesia. Agar mereka bisa tumbuh menjadi generasi penerus secara optimal.

Namun, beberapa waktu sebelumnya (17/7), media dihebohkan oleh kasus bullying yang menimpa seorang siswa SD di sebuah pusat perbelanjaan di Jakarta. Kejadian tersebut bukan kali pertama di Indonesia, sudah sederetan kasus yang muncul di media bahkan bisa jadi banyak kasus yang tidak terungkap.

Oleh karena itu, anak perlu diajarkan agar mereka dapat menghindari perilaku bullying yang bisa jadi mengintainya.

Ajari anak untuk mengidentifikasi resiko-resiko kekerasan

ilustrasi: flickr

Anak perlu dijelaskan tentang resiko kekerasan yang mungkin saja terjadi. Kekerasan tidak hanya secara fisik, seperti pukulan, tendangan, tamparan, merebut dengan paksa dsb. Tapi juga dapat berupa kekerasan verbal seperti ejekan, panggilan yang tidak baik terhadap anak, bentakan, ancaman, dsb.

Ajari anak untuk memahami bagaimana mereka mendapat perlindungan

Maraknya kasus bullying bisa jadi karena anak tidak tahu kemana dia harus mencari perlindungan. Sampaikan pada anak, kemana dia akan mendapat perlindungan jika mengalami kekerasan atau bullying, contohnya segera ceritakan kepada orangtua, guru, saudara atau sahabat yang kita percaya.

Ajak anak untuk mempelajari bahasa yang dapat menjelaskan perasaanya

ilustrasi: parenting.co.id

Anak seringkali malu atau takut untuk menyampaikan kepada oranglain jika dirinya telah mengalami kekerasan. Bantu mereka untuk dapat mengungkapkan perasaanya.

Khususnya untuk orangtua, buatlah waktu khusus untuk membiasakan diri berbicara dengan anak, dengarkan ceritanya tentang apa yang dia alami dan menarik untuknya. Sehingga dengan itu anak akan terbiasa mengungkapkan perasaannya kepada orangtua termasuk jika anak mengalami kekerasan dari orang lain

Bantu anak mengenali bagian tubuhnya sehingga mereka dapat melindungi dirinya

Seringkali kejadian kekerasan (seksual) terjadi karena ketidaktahuan anak bahwa bagian tubuh tertentu tidak boleh disentuh oleh orang lain.

Sejak kecil, ajarkan kepada anak, bagian tubuh yang hanya boleh disentuh oleh dirinya, agar ketika orang lain yang menyentuhnya segeralah menolak dan mencari perlindungan.

Untuk lebih memudahkan menjelaskan kepada anak, Ayah dan Bunda bisa lihat disini

Ajari anak mengenali sentuhan kasih sayang dan sentuhan yang menyakiti

Bagaimana bentuk sentuhan kasih sayang dan sentuhan yang menyakiti perlu dijelaskan kepada anak, khususnya sejak kecil. Karena anak usia dini lebih rentan mendapatkan kekerasan karena ketidak tahuannya bahwa perilaku yang didapatnya adalah bentuk kekerasan (khususnya pada kejadian kekerasan seksual

Kenalkan batasan aurat sejak dini

Dalam islam, batasan aurat antara laki-laki dan perempuan sudah disampaikan dengan jelas. Oleh karenanya, sejak usia dini anakpun perlu disampaikan hal tersebut.

Dengan dikenalkan batasan aurat, paling tidak pakaian yang dia gunakan lebih “aman” dari ancaman kekerasan (seksual) yang mungkin mengintainya. Karena pada beberapa kasus yang muncul di media, penyebab pelaku melakukan kekerasan seksual adalah karena melihat “aurat” si korban

Pisahkan kamar anak laki-laki dan perempuan

Rasulullah SAW telah mengajarkan bahwa dalam Islam memisahkan kamar anak laki-laki dan perempuan harus dilakukan sejak anak memasuki usia 10 tahun.

Dalam sebuah hadits disampaikan bahwa

Perintahkan anak-anak kalian shalat pada usia 7 tahun, pukullah jika meninggalkannya pada usia 10 tahun dan pisahkan diantara mereka tempat tidurnya.”  (HR. Ahmad dan Abu Dawud, dihasankan oleh An Nawawi daman Riyadush Shalihin dan Al Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud)

Nah, jadi itulah cara-cara agar anak kita tidak menjadi korban kekerasan atau bullying.  Semoga bermanfaat… dan semoga generasi penerus bangsa ini tumbuh secara kondusif dan optimal

 

-Suci Apriani-