Mengajarkan anak berpuasa merupakan kewajiban setiap orangtua. Kapan dan bagaimana mengajari anak berpuasa merupakan hal yang wajib menjadi perhatian khusus agar kesadaran anak untuk mengerjakan kewajiban dalam agama muncul tanpa paksaan.

Mengajari anak berpuasa bukanlah perkara mudah. Banyak sekali hambatan yang ditemui orangtua ketika mengajari anak berpuasa. Bahkan, tidak jarang hambatan itu berasal dari sikap orangtua yang separuh hati dalam mengajari anak berpuasa.

Agar orangtua tidak lagi mengalami kesulitan dalam mengajari anak berpuasa, ada baiknya mengetahui alasan pentingnya mengajari anak berpuasa. Selain bermanfaat bagi kesehatan secara fisik. Berpuasa juga baik bagi pembentukan mental anak bagi masa depannya.

Mengapa berpuasa baik bagi anak?

Berpuasa hakikatnya adalah menahan diri.  Menahan diri untuk tidak makan dan minum dalam rentang waktu yang ditentukan. Menahan diri ini  merupakan salah satu latihan mental yang penting untuk membentuk anak menjadi pribadi yang tangguh, tidak mudah menyerah dan selalu optimis.

Namun perlu diketahui juga, kapankah sebaiknya orangtua mengajari anak berpuasa?

Mengajari anak berpuasa sejak dini

Sekalipun tidak ada patokan usia yang pasti untuk mengajari anak berpuasa, sekalipun tidak ada kewajiban bagi anak untuk menjalani ibadah puasa, namun melatih anak berpuasa sebaiknya dilakukan sejak dini.

Pada usia 3-5 tahun, di mana anak  mengalami  fase perkembangan kognitif, anak mulai memahami puasa sebagai tidak makan dan tidak minum. Dan setiap anak memiliki kemampuan yang berbeda dalam menahan lapar dan haus. Meskipun begitu, sudah menjadi kewajiban bagi orangtua untuk menciptakan rasa senang bagi anak untuk menjalani puasa.

Bagaimana caranya anak menyukai dan menjalani puasa dengan rasa senang?

1. Lakukan secara bertahap

Mulailah melatih anak berpuasa 3-4 jam di tahun pertama anak memahami puasa. Contohnya, hingga jam 10 pagi. Dan bertahap hingga jam 12 siang bila dirasa anak cukup kuat. Pada tahun kedua anak belajar puasa, latihlah anak menjalaninya hingga sore.

Tidak mengapa bila pada jam-jam yang sudah ditentukan mereka makan dan minum sedikit, kemudian melanjutkan kembali hingga tiba waktu berbuka.

2. Hargai usahanya menahan lapar dan haus

Jangan mengejek bila anak merasa lapar dan haus. Bukankah hal itu normal dan amat wajar? Berikan semangat pada anak, agar mampu melewati hari itu dengan baik.

3. Sediakan makanan berbuka yang menggugah selera

Biasanya anak akan merasa senang menjalani puasa, apabila diwaktu berbuka bunda menyajikan hidangan yang sesuai dengan selera atau permintaan anak. Orangtua bisa mensiasati keinginan anak dengan menyesuaikannya dengan budget yang dimiliki. Tak perlu banyak dan mahal, yang penting mampu membuat anak merasa senang.

4. Beri teladan yang baik

Jangan sampai orangtua menyuruh anak berpuasa, sementara mereka makan dan minum di sembarang waktu. Sebab anak selalu meniru apa yang orangtua lakukan dalam keseharian.

Karena itu, sedapat mungkin hindarilah sikap bermalas-malasan, bila tidak ingin di kemudian hari, anak-anak menganggap orang yang menjalani ibadah puasa boleh bermalas-malasan.

Referensi: id.theasianparent.com