Hari-hari pertama anak menjalani sebagai murid kelas 1 SD (Sekolah Dasar) merupakan pengalaman yang sarat dengan cerita seru. Wajah anak terlihat bangga karena pakai seragam baru tapi juga cemas karena akan bertemu guru dan teman-teman baru.

Tak semua anak merasa siap sebagai murid kelas 1. Beberapa sudah lancar membaca dan menulis, namun tidak berarti hal ini menjamin anak bisa melewati masa-masa penyesuaian diri di kelas 1 dengan mulus. Ada banyak hal baru dan berbeda dari TK (Taman Kanak-kanak) yang akan mereka temui.

Ada masa-masa menyesuaikan diri yang harus dilalui sebelum murid-murid kecil ini benar-benar jadi anak besar di SD. Apa saja masalah yang mungkin anak hadapi? Simak 8 permasalahan anak di kelas 1 SD dan solusinya.

1. Tidak Ada Mainan di Kelas

Umumnya, kelas di TK ditata dengan memberi ruang yang sangat besar untuk bermain, sedangkan SD akan ditata lebih formal dengan meja dan kursi yang lebih banyak digunakan untuk membaca dan menulis.

Jika anak-anak TK bisa bermain dengan berbagai alat permainan di luar dan dalam kelas, kesempatan itu lebih terbatas di SD. Apa lagi? Di waktu istirahat, murid-murid SD lebih banyak bermain berkelompok dengan teman-teman di halaman sekolah.

Nah, sekolah yang baik akan memberi ruang bagi murid kelas 1 SD untuk menyesuaikan diri. Biasanya, guru masih menggunakan kegiatan-kegiatan yang melibatkan bermain atau bernyanyi sebagai kegiatan belajar. Dengan begitu, anak-anak tak mudah bosan.

Sebagai orang tua, Ayah/Bunda bisa berbicara dengan guru kelas untuk mengetahui bagaimana rutinitas kelas serta kegiatan belajar di kelas. Bisa mengobrol dengan si kecil tentang perbedaan kegiatan sehari-hari di TK dan SD. Tunjukkan bahwa ia tetap bisa bermain dengan teman-temannya sebelum masuk kelas atau selama waktu istirahat.

2. Waktu Sekolah Lebih Panjang

Jam masuk sekolah di SD pun umumnya lebih pagi daripada TK. Anak perlu bangun lebih pagi, bersiap-siap lebih pagi, tetapi pulang sekolah lebih siang. Di minggu-minggu awal, mungkin si kecil mudah lelah atau uring-uringan di rumah.

3. Tersesat di Sekolah

Sebelum si kecil masuk SD, sempatkan untuk mengajaknya berkeliling sekolah dan menunjukkan di mana kamar kecilnya. Di rumah, Ayah/Bunda bisa mulai membiasakannya melepas dan mengenakan baju sendiri, serta menolong diri sendiri untuk pipis serta pup sejak awal hingga selesai. Bantu anak menemukan cara yang paling nyaman dan mudah untuk membersihkan diri, dan latih langkah demi langkah.

Jika murid kelas 1 SD mengalami ‘kecelakaan’, itu masih wajar. Tak perlu marah padanya, tapi ajarkan apa yang harus dilakukan bila mengalami ‘kecelakaan’ seputar urusan kamar kecil.

4. Bosan pada Satu Pelajaran

Sekolah di TK memang berarti bermain, bernyanyi, menggunting, dan menempel. Di kelas 1 SD, ia lebih banyak mendapat tugas yang menuntutnya menulis. Kurikulum SD lebih menekankan kemampuan dasar belajar, seperti membaca, menulis, dan berhitung, dibandingkan TK. Beberapa anak mungkin sudah bisa membaca dan menulis ketika masuk SD, sementara sewajarnya anak baru bisa membaca dan menulis di usia 7 tahun.

Umumnya, anak usia 6 – 7 tahun bisa mempertahankan perhatian dan konsentrasinya pada satu kegiatan, termasuk menulis, selama 10 – 15 menit. Lebih dari itu, perhatiannya bisa teralih pada hal lain.

Guru-guru yang cukup peka terhadap kemampuan murid kelas 1 memusatkan perhatian mungkin akan mengubah ragam kegiatan setiap 10 – 15 menit untuk membuat si kecil tetap terlibat dan tekun menyelesaikan tugas.

Saat anak membaca atau mengerjakan PR di rumah, ada baiknya Ayah/Bunda memecah tugas ke dalam satuan 10 – 15 menit. Biarkan si kecil mengisi jeda waktu dengan bergerak atau melakukan permainan singkat. Minta ia kembali melanjutkan bagian tugasnya selama 10 menit kemudian.

Jika anak belum bisa bertahan selama 10 menit, Ayah/Bunda bisa memulainya dalam rentang waktu 2 menit, lalu ditingkatkan perlahan-lahan hingga mencapai 10 menit. Sebenarnya, ketahanan si kecil menyelesaikan tugas bisa dibangun dengan mengajaknya berkomitmen untuk tidak meninggalkan tugasnya selama 10 menit, dan mengambil jeda selama beberapa saat.

5. Kenapa Membaca Terus?

Kemampuan membaca anak berkembang mulai dari mengenal dan merangkai bunyi huruf, membaca kata, lalu membaca kalimat. Ia mulai bisa melafalkan dengan lancar, lalu kemampuannya memahami bacaan secara bertahap mulai berkembang. Jika anak sudah bisa membaca dengan lancar, belum tentu ia memahami isi teks yang dibacanya.

Jika Ayah/Bunda mempertahankan rutinitas membacakan buku bagi si kecil, ia akan mendapat banyak manfaat.

Ajak pula anak bercakap-cakap tentang isi buku yang dibaca. Gunakan kata tanya, berupa “apa”, siapa”, “mengapa”, “bagaimana”, “kapan”, serta “di mana”. Beri kesempatan padanya untuk bertanya pada Anda. Tanya jawab ini merupakan latihan pemahaman bacaan baginya. Di kelas nanti, ia tak asing lagi bila diminta guru  menjawab pertanyaan sesuai bacaan.

Bacaan favorit anak bisa pula digunakan untuk membantunya lebih lancar membaca atau menulis kata-kata yang sering ditemui. Cerita baru memang seru, tetapi buku yang sudah akrab membuat pengalaman baru rtidak terlalu menakutkan.

6. Penilaian Tugas Sekolah

Beberapa anak tak terlalu memperhatikan apakah nilainya 6 atau 9. Apa, sih, bedanya? Daripada memaksa atau menuntutnya selalu dapat nilai 8, 9, bahkan 10, apalagi membandingkannya dengan teman, ajaklah ia duduk bersama dan membahas lagi hasil kerjanya. Tunjukkan mengapa guru mencoret atau memberi catatan di pekerjaannya.

Ayah/Bunda bisa mengajak anak untuk selalu memperbaiki kesalahan di hasil kerjanya, sehingga ia memahami bahwa kita bisa belajar dari kesalahan dengan memperbaikinya. Kegiatan sederhana ini akan membuatnya lebih nyaman, merasa yakin dengan kemampuannya, bisa memperbaiki kesalahan, serta tidak berorientasi pada hasil melainkan proses.

7. Lupa Mencatat Tugas Sekolah

Ketika anak masuk SD, Anda bisa berharap gurunya sudah memercayai dia untuk menyampaikan pesan pada Anda, berupa surat atau formulir yang harus dilengkapi. Si kecil juga sudah dipercaya untuk bertanggung jawab, seperti mengerjakan pekerjaan rumah.

8. Berselisih dengan Teman

Di SD, anak ebih banyak bermain bersama teman sebayanya atau kakak kelasnya tanpa pengawasan guru. Seperti layaknya anak yang sedang belajar mengembangkan keterampilan sosialnya, anak mungkin terlibat konflik dengan temannya.

Anak usia 6 – 7 tahun juga belum terlalu terampil mengemukakan perasaan atau pendapatnya secara verbal. Tak heran, beberapa konflik berakhir dengan saling pukul atau menangis.

Anak usia ini masih perlu belajar bagaimana menyelesaikan konflik dengan teman secara asertif. Pada masalah ini diharapkan orang tua dan guru bisa bekerja sama membuat anak-anak dapat menyelesaikan masalahnya dan bisa bermain bersama lagi.

Refrensi: parenting.co.id