Ternyata, sampai saat ini masih banyak orangtua yang berlomba-lomba menyekolahkan anaknya sedini mungkin. Meskipun beberapa sekolah memiliki batasan umur untuk siswa baru, tapi seringkali orangtua tetap memaksakan anaknya agar bisa sekolah meski secara kemampuan, orangtua menganggap anak sudah mampu.

Padahal sebenarnya, hal tersebut tidaklah baik untuk mental sang anak. Jangan hanya memperhatikan aspek kognitif anak, tetapi perhatikan pula kondisi psikologis yang justru lebih penting pada usia kanak-kanak.

Jika anak tetap dipaksakan bersekolah sedini mungkin, kemungkinan anak akan mengalami resiko seperti berikut ini:

1. Sulit Menyerap Pelajaran Sekolah

Salah satu resiko terlalu cepat menyekolahkan anak adalah kesulitan menyerap pelajaran. Mengapa? Karena untuk belajar di sekolah, tidak hanya dibutuhkan kematangan akademik saja, melainkan juga dibutuhkan kematangan secara emosional.

2. Sulit Bersosialisasi

Karena secara emosional anak belum matang. Ada banyak faktor yang dapat membuat anak menjadi sulit beradaptasi. Misalnya, karena anak sulit belajar dia akan merasa tertinggal dengan teman-teman lainnya. Hal ini akan membuatnya merasa minder dari teman-temannya. Atau karena dianggap lebih kecil dari yang lainnya, mereka bisa mendapatkan perlakuan ‘bullying’ dari teman-temannya yang lebih tua darinya.

3. Rentan Terkena ADHD

Anak yang terlalu cepat sekolah juga beresiko mengalami gangguan psikologis attention-deficit hyperactivity disorder (ADHD) alias sindrom hiperaktif. Sebuah penelitian yang dilakukan Taipei Veterans Hospital di Taiwan mengungkapkan bahwa anak-anak memasuki kelas (sekolah) di bawah usia, rentan menderita ADHD.

Hal ini disebabkan karena kemampuan anak untuk dapat mengontrol perilakunya hanya dapat berkembang seiring pekembangan usianya. Sehingga, di usianya yang dini anak akan sulit mengotrol perilakunya dan jika dipaksakan maka rentan terkena ADHD.

4. Memiliki Masalah Perilaku di Masa Depan

Anak yang terlalu cepat sekolah nantinya akan memiliki gangguan atau masalah perilaku. Mereka dituntut untuk cepat belajar, cepat berkembang dan dewasa sebelum waktunya, maka akan tiba masa di mana anak nantinya dapat memberontak. Hal ini terjadi karena sebagian anak merasa masa kecil mereka telah direnggut dan kurang bahagia.

Referensi: ummi-online.com