Oleh : hafizhamaryam

Setiap kita dapat dipastikan pernah bertemu atau sekedar melihat penyandang disabilitas, seperti tuna netra, tuna rungu, autistik, atau penyandang keterbatasan lainnya.  Mereka bisa jadi adalah tetangga, kerabat, bahkan mungkin anggota keluarga kita.

Bagaimana perasaan kita saat melihat keterbatasannya?  Mungkin muncul rasa iba, empati, peduli hingga ingin memudahkan perjalanan hidup mereka.  Tetapi…. tidak sedikit diantara kita masih muncul rasa tidak peduli, meremehkan, mencibir, menghina hingga jijik dengan keterbatasannya.

Dahulu….Pada zaman Hitler, terjadi pemusnahan terhadap penyandang cacat. Sungguh, pada zaman itu penyandang disabilitas hanya dipandang sebelah mata sebagai kaum yang tidak layak untuk tinggal di bumi ini.

Sampai sekarang masih banyak yang menganggap bahwa penyandang disabilitas adalah orang-orang yang tidak mampu melakukan apa-apa, hidup dan kehidupan mereka  sangat bergantung pada belas kasihan orang lain, mereka selalu butuh bantuan dalam segala hal, dan masa depan mereka dipastikan suram.

Belum lagi, diskriminasi yang mereka terima dalam dunia pendidikan dan lapangan kerja, misalnya untuk mendaftar sekolah dan atau melamar pekerjaan harus memenuhi persyaratan utama, seperti sehat jasmani dan rohani yang harus dibuktikan dengan surat keterangan sehat oleh dokter.   Secara langsung, syarat tersebut telah mengurangi kesempatan disabilitas yang memiliki kekurangan dari segi fisik namun memiliki kompeten dan potensial untuk turut serta sebagai pendaftar.

Sejujurnya, penyandang disabilitas belum mendapatkan hak-haknya dengan baik. Mulai dari fasilitas  pelayanan pendidikan, kesehatan, dan transportasi umum yang ramah dan bersahabat dengan kondisi mereka.

Jika kita berpandangan luas dan mau membuka mata lebar-lebar, stigma negatif terhadap penyandang disabilitas  adalah salah besar.  Banyak penyandang disabilitas yang mampu hidup mandiri dan memiliki masa depan cerah.  Sebagian dari mereka bahkan ada yang mampu mengukir prestasi menakjubkan. Misalnya saja Hellen keller, penyandang tuna netra dan tuna rungu, yang menjadi perempuan disabilitas yang pertama kali berhasil menjadi sarjana, dan memiliki yayasan yang peduli terhadap penyandang tuna netra di seluruh dunia.  Pemikiran dan usaha Hellen keller masih bisa dimanfaatkan orang banyak, walaupun beliau sudah tiada.

Manusia sebagai makhluk ciptaan Yang Maha Kuasa, dikaruniai dengan kelengkapan jasmani dan rohani.  Seyogyanya, sebagai sesama makhluk ciptaanNya, manusia seharusnya saling peduli terhadap sesama.  Perbedaan fisik dan mental bukanlah halangan bagi kita untuk menutup diri dari kekurangan orang lain. Hidup di bumi yang sama,  menghirup udara yang sama, dan mengkonsumsi pangan yang sama seharusnya mengetuk hati nurani kita.

Sudah saatnya kita peduli terhadap para penyandang disabilitas, dengan memanusiakan orang lain dan membantunya menjadi manusia yang lebih baik.  Menganggap mereka setara dengan kita dengan memunculkan sikap memahami potensi sekaligus menerima segala kekurangannya, adalah bentuk dari memanusiakan manusia.  Yakinlah, bahwa Sang Maha Segalanya telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.  Kekurangan fisik dan mental dalam pandangan manusia, bukanlah menjadikan hambatan bagi mereka untuk melakukan hal-hal yang orang lain lakukan.  Seharusnya kekurangan dalam bentuk apa pun diterima sebagai keunikan seseorang dan sebuah kebhinekaan yang bukan memisahkan melainkan menyatukan. Dengan demikian tidak ada lagi  upaya atau rasa sedikitpun untuk membully dalam bentuk hinaan, ejekan, bahkan usah untuk menyingkirkan.   Sedangkan, membantu menjadi manusia yang lebih baik berarti kita tunjukkan kepedulian  membantu penyandang disabilitas untuk  mandiri dan mencapai kehidupan yang lebih baik.

Dalam rangka kepedulian terhadap para penyandang disabiltas dan salah satu lembaga yang terpanggil untuk mempersiapkan masa depan anak-anak disabilitas, YASMINA Foundation sebagai pengelola Sekolah Kreativa (KB-TK-SD-SMP) memperingati “Autism Day” dengan mengadakan Seminar dan Talkshow Hari Peduli Autis yang bertema Berbagi Cinta di antara Kita.  Acara tersebut menghadirkan dua narasumber, yaitu Dr. Adri Mayza, Sp.S(K) dengan materi Proses Pembelajaran Berbasis Neuro Science, “Brain Development and Brain Stimulation”, dan Beny Sudarmaji, seorang trainer NLP Trainer & Coach, dan Master Instructure BNSP menyampaikan materi talk show dengan judul “Children Awaken.”  Bertempat di Rumah Makan Sekarwangi, Bubulak Bogor, kegiatan ini dihadiri oleh sekitar 130 orang peserta seminar yang terdiri dari guru, dosen, terapis, dan orangtua siswa Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) dan umum yang antusias mengikuti acara mulai dari pukul 8.00 sampai dengan 15.30 WIB.

Semoga acara tersebut memberikan pengalaman dan pembelajaran kita bahwa kehadiran mereka bukanlan menjadi beban kita.  Mereka itu…saudara kita yang juga mempunyai potensi dan perlu diberikan kesempatan yang sama dengan kita.  Ayo, raih tangan-tangan mereka, kita saling bergandengan untuk mengantar mereka meraih mimpi- mimpi besar hingga bintang terang itu pun ada dalam genggaman tangan mereka.