Bencana alam seperti gempa bumi yang baru saja terjadi di Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat, menyisakan duka mendalam bagi setiap orang, tak terkecuali bagi anak-anak. Pengalaman traumatis pada masa keemasan anak di bawah usia 5 tahun, bisa terbawa hingga dewasa.

Untuk menangani trauma anak pascabencana, ada 7 cara yang bisa dilakukan orang tua atau relawan:

1. Ajak Anak Melakukan Kegiatan Menyenangkan

Ajak anak untuk melakukan kegiatan yang menyenangkan. Karena dengan demikian kenangan buruk saat bencana akan terganti dengan kebahagiaan dan kenyamanan saat ini. Contohnya: menggambar, bernyanyi, mengaji, bermain permainan tradisional, bercerita, menonton film dan kegiatan lain yang biasanya disukai anak.

2. Selalu Temani dan Ajak Bicara

Usahakan jangan tinggalkan anak sendiri. Temani dan ajaklah bicara tentang apa yang ia rasakan. Biarkan anak mengungkapkan perasaannya, sedih, marah, kecewa dan sebagainya.

3. Jangan Interupsi atau Menyela

Jika anak sedang bercerita tentang perasaannya, jangan pernah menginterupsi atau menyela meskipun itu untuk menghiburnya. Biarkan ceritanya mengalir, biarkan ia menangis. Karena keterbukaannyauntuk menceritakan kepedihan yang ia alami adalah bentuk dari sebuah penerimaan atas musibah yang terjadi.

4. Ajak Anak Berdamai dengan Setiap Peristiwa

Ajari anak untuk menerima kenyataan, bukan mengingkari. Karena jika anak sudah bisa menerima kenyataan mengenai peristiwa buruk yang pernah ia alami itu artinya separuh dari traumanya telah terobati.

5. Ajak dan Ajari Anak Menulis

Jika anak sulit menceritakan tentang perasaannya, minta anak untuk menuliskan apa yang ia pikirkan. Dengan menulis anak akan berbagi pikiran yang akan membantu proses pemulihan trauma.

Menulis bisa menjadi jembatan yang cukup efektif bagi anak untuk menumpahkan segala emosi sehingga beban pikiran dan perasaan bisa terurai dan anak menjadi lebih rileks.

6. Libatkan Anak Menjadi Relawan

Libatkan anak dalam kegiatan-kegiatan yang bermanfaat seperti menjadi relawan untuk menolong korban lainnya. Sebab dengan ia membantu orang lain, tanpa disadari hal tersebut akan membantunya untuk melupakan peristiwa buruk yang pernah dialami.

Ketika ia melihat banyak orang lain yang lebih menderita, itu akan menjadi penyemangat untuk bangkit dan berjuang, bahwa ia tidak sendiri. Pada dasarnya manusia butuh aktualisasi diri. Kebermanfaatan kita terhadap lingkungan sekitar tentu akan menjadi obat yang sangat mujarab.

7. Pastikan Anak Melakukan Rutinitas Seperti Biasa 

Pastikan anak melakukan rutinitas seperti biasa seolah tidak terjadi bencana. Hal tersebut untuk mempercepat proses pemulihan dengan meyakinkan anak bahwa bencana ini dapat  terjadi pada siapa saja jadi  tidak perlu berlarut-larut dalam kesedihan.

Setelah semua tahapan dilakukan ada hal paling penting yang merupakan tugas kita sebagai orang tua. Berdoa dengan penuh harap pada Allah agar kondisi kejiwaan anak segera pulih dan terbebas dari trauma.

Referensi: abiummi.com