Mendidik anak perempuan tak sama dengan mendidik anak lelaki. Namun, sayangnya masih banyak masyarakat di sekitar kita yang menyemaratakan metode mendidik antara anak laki-laki dan perempuan. Padahal, alangkah baiknya jika kita mendidik anak sesuai dengan fitrah mereka sebagai laki-laki dan perempuan.

Khususnya mendidik anak perempuan, perlu kedekatan personal yang lebih dari Ayah dan Bunda karena secara psikologis, anak perempuan lebih dominan perasaannya.

Menanamkan Pemahaman bahwa Menjadi Perempuan adalah Istimewa dengan Segala Hak dan Kewajibannya

Barangkali anak-anak pernah berpikir bahwa menjadi anak perempuan itu merepotkan karena harus mengenakan jilbab dan pakaian yang menutup aurat setiap keluar rumah.

Nah, inilah tugas orangtua untuk menanamkan pemahaman kepada mereka bahwa menjadi perempuan itu istimewa. Meskipun mungkin mulanya mereka merasa rumit dengan segala kewajiban yang ada, tetap yakinkan kepada mereka bahwa toh semua kewajiban yang Allah bebankan pasti mengandung kebaikan dan pasti ada alasan kesehatan juga untuk perempuan.

Mengajarkan Akhlak dan Adab 

Sejak dini ajarkan kepada anak perempuan untuk berakhlak dan beradab seperti muslimah dengan menunjukkan teladan. Tentu saja anak kita butuh sosok nyata dalam kehidupan yakni dari orangtuanya sendiri.

Ajarkan bahwa muslimah itu sudah selayaknya memiliki rasa malu, yakni malu untuk berbuat maksiat, malu untuk berlaku berlebihan, dll. Sebagai muslimah, terapkan pula kepada mereka untuk senantiasa menjaga diri di mana pun berada.

Mendidik Sesuai dengan Perkembangan Usia 

Ajarkan tahapan perubahan yang terjadi pada tubuh anak perempuan ketika ia telah beranjak dewasa. Berikan pemahaman yang sesuai dengan usianya, misalnya, saat haid bagaimana rukun mandi besar, apa yang harus dilakukan ketika siklus haid datang, dll.

Arahkan Ketika Anak Mulai Menyukai Lawan Jenis

Tidak perlu dimarahi atau dilarang ketika anak perempuan mulai mengenal perasaan cinta kepada lawan jenis. Sebab ini merupakan hal wajar yang pasti dialami oleh manusia. Hanya saja, perasaan tersebut perlu dijaga sebaik dan serapat mungkin agar tak menimbulkan mudharat. Caranya?

Mulailah untuk menjadi sahabat bagi mereka. Dengan demikian, sang anak akan mudah menceritakan segala keluh kesah yang dialami dengan leluasa. Nah, jika sudah seperti itu, orangtua akan mudah mengarahkan anak untuk belajar menjaga tak hanya dirinya, tapi juga hatinya dengan bijaksana.

Arahkan bahwa perasaan semacam itu ada baiknya dialihkan dulu dengan hal-hal yang jauh lebih bermanfaat lainnya, seperti fokus belajar dan berprestasi.