Orangtua dahulu memang sangat mementingkan acara silaturahim antar anggota keluarga. Belum adanya teknologi media sosial seperti sekarang malah membuat acara kumpul-kumpul dimanfaatkan betul untuk saling bercengkerama sehingga pertemuan menjadi berkualitas.

Mereka bisa mengetahui silsilah atau garis keturunan sampai tiga atau empat generasi di atasnya. Tahu si kakek ini punya anak dan cucu siapa saja, kenal dengan sepupu jauh atau sepupu dekat, bahkan keluarga sahabat orangtua di kampung bisa menjadi seperti keluarga dekat walau tidak satu garis keturunan.

Sampai pada generasi kita, apakah kita bisa mengingat garis keturunan ayah dan ibu beberapa generasi di atas kita? mampukah kita mengenalkan silsilah keluarga ini kepada anak-anak kita?

Belajar dari Kekerabatan Orangtua

Menurut Drs Soleh Amini Yahman, M.Si, Psikolog, generasi terdahulu memang lebih baik dalam menjaga kekerabatan dalam keluarga, karena mereka masih terikat oleh ikatan adat tradisional yang kuat dalam berkehidupan.

“Kehidupan sosio cultural mereka masih sangat sederhana dan tuntutan hidup mereka belumlah sekompleks saat ini. Nah, sementara generasi sekarang bersikap lebih longgar dalam menyikapi kehidupan kekerabatan dan kehidupan sosial pada umumnya,” jelas dosen di Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta ini.

Generasi sekarang hidupnya lebih disibukkan oleh urusan karier dan mencari nafkah demi masa depan anak-anaknya, atau demi prestasi tertentu yang telah menjadi target kehidupannya. Tuntutan kehidupan generasi sekarang jauh lebih tinggi, lebih rumit dan lebih kompleks dari generasi terdahulu. Karena itu, seiring perubahan zaman, prioritas kehidupan sosial pun berubah.

Namun demikian, kita tidak boleh memaklumkan saja prioritas yang semakin bergeser ini. Biar bagaimanapun, menjaga silaturahim dalam satu keluarga besar sangat penting dan mengandung kebaikan yang banyak. Dan kerenggangan di dalamnya akan melahirkan kerugian yang tidak sedikit pula.

Tidak adanya ikatan sosial dan emosional yang kuat di antara orang-orang yang sebenarnya masih bersaudara adalah efek kerenggangan kekerabatan yang sering kita lihat sekarang. Bahkan tak sedikit yang di masa tuanya hidup sebatangkara karena tak tahu lagi siapa dan di mana saudaranya.

“Ketika mereka merasa tidak mempunyai kewajiban emosional dan kekerabatan, akibatnya terjadi disharmoni sosial dalam kehidupan bermasyarakat, seperti mudahnya terjadi konflik atau perselisihan ketika ada perbedaan paham, atau tidak ada keterikatan hati untuk saling membantu saat sulit,” tambah Soleh.

Dari sisi syariat, ungkap Ustadz H Ali Fikri Noor, Lc, MA, efeknya lebih berbahaya lagi. Keluarga yang tidak dibiasakan mengenal garis kekerabatannya, rentan terjadi pernikahan sedarah. Hal ini sangat dihindari dalam Islam.

Pentingkah Mengetahui Nasab Keluarga?

Jika Rasulullah saw hafal kakek-kakek beliau sampai ke Nabi Ibrahim, dan para ahli hadits sangat memperhatikan masalah nasab terkait diterima atau tidaknya periwayatan hadits seseorang, apakah umat Islam wajib mengetahui nasab keluarga?

Menurut Ali Fikri, tidak ada kewajiban bagi kita untuk menghafal nasab keluarga kita. Tapi jika dilakukan, itu tetap baik,karena tandanya kita punya perhatian terhadap nasab.

“Yang utama ada dalam surat Al-Ahzab, ‘Panggilah mereka dengan nama ayah mereka, itu lebih adil di sisi Allah.’ Tidak boleh memanggil dengan nama ayah angkat, karena akan merusak nasab. Sebagaimana Rasulullah pernah memanggil Zaid bin Haritsah menjadi Zaid bin Muhammad, dan kemudian ditegur oleh Allah,” jelasnya.

Di antara tujuan-tujuan syariat Islam, ungkapnya lagi, pertama adalah hifzud din (menjaga agama), lalu hifzul maal(menjaga harta), kemudian hifzun nasab (menjaga nasab).  Artinya, ketika Islam membuat tatanan kehidupan, maka di antara tujuannya adalah menjaga nasab.

“Atas dasar inilah Allah mengharamkan perzinaan. Bahkan mendekatinya saja tidak boleh. Karena itu pula ulama melarang ikhtilat antara laki-laki dan perempuan. Itu tujuan akhirnya untuk menjaga nasab, agar tidak bercampur,” jelas Dosen Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah dan Dirasat Islamiyah Al Hikmah, Jakarta ini.

Bahkan untuk menjaga nasab ini juga, lanjut Ali Fikri, Islam mewajibkan adanya masa iddah kepada perempuan  yang baru saja cerai atau ditinggal suaminya sebelum ia menikah lagi, selama 3 bulan 10 hari. Untuk apa? Supaya rahim menjadi bersih, tidak bercampur antara benih suami dengan suami sebelumnya.

Jika menghafal nasab tidak wajib, namun menjaga kebersihan nasab adalah suatu keutamaan dalam Islam. Sebagaimana sabda Rasulullah saw, “Pilihlah tempat benih mani kalian, nikahilah pasangan yang sekufu…” (HR Ibnu Majah).

Dan dalam hadits yang lain, “Jauhi oleh kalian khadhraa`ad diman.” Mereka berkata, “Apakah khadhraa`ad diman wahai Rasulullah?” Beliau bersabda, “Wanita cantik yang tumbuh dalam lingkungan buruk.”

Dari hadits ini, Ali Fikri menjelaskan bahwa nasab itu akan berdampak. “Jika calon istri dari nasab yang kurang baik sedangkan suami dari nasab yang baik, maka ada risiko nasab suami menjadi kurang baik,” paparnya.

Kenalkan Keluarga pada Anak

Dalam menjaga silsilah keluarga, Soleh Amini menyarankan kepada para orangtua untuk membiasakan saling berkunjung dan memahamkan kepada anak siapa saja keluarga mereka, yang mana sepupu, paman, bibi, dsb. “Orangtua juga bisa menceritakan histori atau sejarah dari kakek-nenek, paman atau bibi mereka,” sarannya.

Diingatkan juga, jangan hanya berusaha mengenal keluarga besar sendiri, tapi dekatkan pula anak-anak pada keluarga besar pasangan. Orangtualah yang paling bertanggung jawab jika kelak anak-anaknya sampai tak mengenal saudara-saudaranya di keluarga besar.

Rekatkan yang Telanjur Retak

Ketika hubungan keluarga tak sekadar renggang, namun sudah retak karena berbagai sebab, apa yang harus dilakukan? Berikut beberapa kiat yang bisa dilakukan agar perselisihan antarsaudara terurai.

Menyadari bahwa akan berkurang nilai shalat, puasa, dan sedekah jika silaturahim rusak. Rasulullah saw bersabda, “Maukah aku kabarkan kepada kalian yang lebih baik daripada derajat puasa, shalat, dan sedekah? Mereka menjawab, ‘Tentu.’ Baiknya hubungan di antara sesama, karena rusaknya hubungan di antara sesama mengikis habis agama,” (HR At-Tirmidzi).

Ada salah satu yang bersedia mengendurkan egonya. Hilangkan rasa rendah diri atau gengsi untuk meminta maaf lebih dulu, jika memang ada kesalahan yang membuat kerenggangan dalam kekerabatan.

Tetap jaga silaturahim, terutama ketika berada pada posisi yang memiliki kedudukan (berkuasa). “Maka apakah kiranya jika kamu berkuasa kamu akan membuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan?” (QS Muhammad [47): 22).

Memberi hadiah. Sesungguhnya, memberi hadiah akan menghilangkan permusuhan dan mendatangkan kasih sayang. “Saling memberi hadiahlah kalian, niscaya kalian akan saling mencintai,” (HR Al-Bukhari).

Berdoa agar dihilangkan dengki. Sesungguhnya Allah Maha Pembolak-balik hati hamba-Nya. Maka mintalah hati kita terlebih dahulu agar bersih dari dengki dengan rutin membaca doa ini,

“Ya Rabb kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman. Ya Rabb kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang,“ (QS Al-Hasyr [59]: 10).

Referensi: ummionline.com