Menjadi wanita karier sekaligus ibu rumah tangga bukanlah perkara mudah. Namun bukan berarti keduanya tak bisa dijalankan dengan baik.

Keduanya merupakan pilihan masing-masing, yang tentunya harus sudah dimusyawarahkan bersama keluarga, mendapatkan izin dan ridho suami. Sebab, bagi seorang wanita, setelah menikah ia memiliki prioritas utama suami dan anak.

1. Mampu Mengatur Waktu

Atur waktu dengan baik agar dapat menyusun jadwal yang harmonis kemudian patuhi aturan waktu yang sudah disepakati bersama. Ketika sudah sampai rumah, maka pada saat itulah waktu sebenarnya bagi seorang Ibu. Justru saat di kantorlah “me time” berada dan wajib dimanfaatkan seoptimal dan semaksimal mungkin.

Jika ada satu waktu (jadwal bermain bersama anak) yang mendadak tidak bisa dipenuhi sesuai kesepakatan karena tugas kantor, maka bekerjasamalah secara adil dan kompak dengan suami. Temukan solusi jitu, siasati dengan cerdas.

2. Pembagian Tugas

Jangan biarkan tanggung jawab menjalankan rumah tangga jatuh sepenuhnya pada Ibu. Suami dan anak-anak juga harus berbagi tanggung jawab sebanyak yang mereka dapat  lakukan sehingga tidak muncul rasa frustrasi dan stres.

Jika anak masih balita, maka tanggung jawab pengasuhan ada pada suami dan istri. Berdua harus kompak, sepakat, dan segala sesuatunya wajib dimusyawarahkan dengan santai dan bahagia agar solusi cerdas dapat ditemukan.

3. Sewa pembantu

Tidak ada salahnya menyewa pembantu paruh waktu untuk membantu tugas sehari-hari. Ini akan memberi waktu istirahat bagi ibu setelah bekerja. Jika tidak dapat menyewa pembantu, dapat memakai jasa di luar seperti laundry dalam hal mencuci pakaian, menyapu, dan menyetrika.

Urusan masak, usahakan kita sendiri yang memasak di rumah. Agar anggota keluarga terbiasa dengan makanan buatan Ibunya sendiri yang terjamin kebersihan dan kesehatannya.

4. Persiapan Bulanan

Jika memungkinkan, selalu atur isi kulkas setiap bulan atau setiap minggu agar keluarga memiliki segala yang dibutuhkan tanpa harus keluar untuk mencari dan membeli makanan cepat saji.

5. Jangan menunda-nunda

Selesaikan tugas dan pekerjaan rumah tangga sesegera mungkin dan jangan menunggu sampai menumpuk. Selain sulit untuk menyelesaikannya, bisa-bisa stres karena pekerjaan yang menggunung.

Jangan pernah berkata bahwa tidak ada cukup waktu. Selalu ada waktu, hanya perlu mengatur dan memprioritaskan beberapa pekerjaan. Jangan menunda-nunda untuk menyelesaikan pekerjaan yang mengganggu. Segera selesaikan sehingga tidak perlu khawatir tentang pekerjaan itu lagi.

6. Menghabiskan seluruh akhir pekan bersama keluarga

Hampir setengah hari setiap hari bekerja dihabiskan di luar rumah, maka di saat ada waktu untuk berlibur sejenak tentu harus dihabiskan bersama keluarga. Usahakan tidak ada lembur atau pekerjaan yang mendesak yang harus dilakukan di akhir pekan. Buatlah akhir pekan menyenangkan, misalnya dengan memasak bersama, sekadar nonton TV bersama, atau melakukan kegiatan yang menyenangkan.

7. Memiliki fleksibilitas dalam menyelesaikan masalah rumah tangga

Jangan membuat aturan yang kaku mengenai pekerjaan dalam rumah tangga. Misalnya, istri harus masak sedangkan suami harus mengantar anak ke sekolah. Memang benar bahwa pembagian pekerjaan rumah tangga harus adil,  buatlah fleksibel, misalnya sesekali suami menyiapkan makanan entah itu dengan cara memasak atau membeli di luar, dan istri yang mengantarkan anak ke sekolah.

Fleksibilitas ini penting mengingat kedua pihak sama-sama bekerja sehingga jika terlalu terpatok pada hal-hal yang baku justru akan menghambat karir.

8. Jangan mudah cemburu

Sebagai ibu rumah tangga dan wanita karir tentu ada banyak aktivitas, baik di rumah maupun di tempat kerja. Apabila terpaksa harus pulang malam karena harus menyelesaikan pekerjaan, tetaplah berkomunikasi dengan suami, jelaskan apa saja aktivitas di kantor sehingga tidak muncul rasa curiga yang tidak pada tempatnya. Jika perlu, ajaklah suami untuk menjemput di tempat kerja.

9. Persiapkan rencana untuk hal-hal tak terduga

Kadangkala, ada masalah di rumah yang bersamaan dengan masalah tugas kantor. Misalnya anak mendadak sakit atau pengasuh anak tiba-tiba sakit sehingga tidak ada yang menjaga anak di rumah, padahal deadline tugas kantor sudah dekat.

Agar bisa kompromi antara masalah karir dan rumah tangga, maka utarakan permasalahan ini pada atasan agar mereka memahami kesulitan yang dihadapi.

Namun apabila dilema berlangsung berulang-ulang maka ada baiknya pertimbangkan kembali apakah tetap meneruskan karir atau memilih menjadi ibu rumah tangga, mengingat keduanya boleh jadi sama penting, tergantung pilihan hidup, tujuan, dan kondisi masing-masing rumah tangga.