Dengan alasan apa pun, gawai tidak boleh menjadi perangkat utama untuk bermain anak. Biasanya, orangtua berani memberikan gawai kepada anak agar mereka bisa duduk tenang, tidak rewel, dan tidak bosan.

Gawai diberikan kepada anak juga biasanya dengan alasan agar anak tidak gagap teknologi, bisa mengikuti perkembangan zaman, dan supaya mudah berkomunikasi dengan orangtua.

Padahal, gawai belum wajib dimiliki anak bila mereka masih berstatus sebagai pelajar. Sebab, aktivitas pelajar merupakan rutinitas yang masih menjadi tanggunjawab serta pantauan penuh orangtua.

Berbeda halnya dengan jenjang mahasiswa dan setelahnya yang tidak lagi dipantau orangtua secara penuh sehingga membutuhkan alat komunikasi.

Tidak menjadi perangkat utama untuk bermain anak artinya gawai masih boleh dioperasikan, hanya saja harus diikuti aturan main tertentu, seperti

1. Maksimal dua jam

Anak di atas dua tahun baiknya hanya dua jam saja diberikan kesempatan bermain gawai. Sebab, mereka harus tetap merasakan bermain di luar rumah agar kemampuan berinteraksi, berkomunikasi, dan mengenali emosi tidak menjadi tumpul.

Bila usia anak di bawah dua tahun, sebaiknya tidak diperkenalkan pada gawai sama sekali. Biarkan anak bermain penuh di luar rumah dan beajar bersosialisasi dengan orang lain. Sebab pada usia di bawah 2 tahun, banyak bagian-bagian kecerdasan anak yang butuh distimulus dan ditumbuhkan secara penuh.

2. Orangtua tidak gaptek

Orangtua sebaiknya menguasai cara mengoperasikan alat elektronik yang akan dipakai anak. Coba semua aplikasi dan permainan yang akan diberi kepada anak untuk melihat bahwa semua permainan tersebut sesuai dengan usia anak.

3. Dampingi anak

Selalu dampingi anak ketika sedang bermain gawai. Sesekali diskusikan apa yang ia lakukan di dunia maya agar komunikasi dengan orangtua tetap terjalin.

Mendampingi anak bermain gawai berarti mengawasi apa yang ia kerjakan dengan benda tersebut, bukan hanya duduk di samping anak lalu sibuk dengan perangkat milik sendiri.

4. Ajari etika dunia maya

Anak-anak yang memiliki gawai akan berinteraksi dengan orang lain, baik melalui pesan singkat atau media sosial. Sebaiknya ajari cara berinteraksi dengan orang-orang yang ada di daftar pertemanannya.

Beri pemahaman pada anak bahwa tidak semua teman di media sosial berusia sama dengannya. Misalnya, ketika membalas komentar dari paman, gunakan bahasa yang semestinya walaupun tidak bertemu langsung.

5. Diskusi

Budayakan berdialog dengan anak dalam setiap kesempatan. Misalnya, ketika mendapati konten yang tidak sesuai dengan usia anak, beri ia pemahaman bahwa ia tidak boleh melihat yang seperti itu.

Begitu juga ketika melihat informasi yang tidak baik, tanya pendapat anak tentang informasi tersebut dan ajak ia berdiskusi.

Beri juga pemahaman pada anak untuk tidak sembarangan memberikan identitas seperti nama lengkap, alamat sekolah, alamat rumah dan nama orangtua kepada orang yang tidak dikenal.

Orangtua pun demikian, hindari mengumbar identitas anak secara berlebihan di dunia maya. Misalnya, berfoto di depan sekolah anak sambil memberi alamat lengkap (baik berupa penjelasan atau memakai fitur lokasi), untuk mencegah kejahatan pada anak.

6. Tidak bawa gawai saat main

Biasakan anak main di luar tanpa membawa gawai agar ia menikmati kualitas bermain di luar rumah, begitu juga ketika ia bermain ke rumah teman.

7. Zona tanpa gawai

Terapkan juga aturan zona tanpa gawai di rumah, misalnya di meja makan. Orangtua harus konsisten memberi contoh kepada anak bahwa tidak boleh bermain gawai saat sedang makan.

Biasakan tidak membawa gawai ke kamar dan anak tidak boleh bermain gawai di kamar sebelum tidur. Caranya, siapkan satu tempat di luar kamar sebagai “wilayah gawai”.

Ajari anak untuk menaruh gawainya di tempat itu dalam keadaan mati sebelum pergi tidur. Orangtua pun demikian, menaruh gawainya di tempat itu.

Selamat membudayakan kebiasaan baik, ya, Ayah Bunda! 😀