Ini adalah Tulisan dari Juara harapan 1 Lomba Menulis Cerpen Women & Family Fair 2016

Libhabit 1ur telah usai. Murid-murid sekolah mulai masuk kembali. Termasuk sekolah Fino. Hari Senin menjadi hari yang sangat istimewa karena hari itu Fino bertemu teman-temannya setelah berpisah beberapa minggu lamanya. Rasanya sudah kangen dan tak sabar untuk berbagi cerita liburan.
Pagi-pagi sekali Fino bangun. Dia mempersiapkan semuanya sendirian. Dari mulai tas, sepatu, buku-buku, dan ….hmmm… beberapa fotonya saat liburan.
Tiba di sekolah, suasana masih sunyi. Fino mendapati ruang kelas barunya. Yap! Sekarang dia sudah kelas lima. “Kelas yang mendebarkan” bisiknya dalam hati. Konon kabarnya kelas lima adalah kelas paling mantep. Materi pelajarannya cukup banyak. Jadi, harus banyak belajar, begitu kata kakak kelas. Ruang kelas lima terletak di lantai 3, dekat dengan kamar mandi. Terlihat meja dan kursi sudah tersusun rapi. Hatinya semakin senang karena saat masuk, dia menjumpai sahabatnya Ardi sudah datang.
“Hai Ar, assalamu’alaikum,” sapanya.
“Wa’alaikumussalam, Fin. Gimana kabarmu?” balas Ardi.
“Alhamdulillah…aku sehat,” jawab Fino.
“Nampaknya gemukan kamu sekarang. Makan terus ya?” kata Ardi sambil tersenyum.
“Kamu sendiri tambah item saja.” timpal Fino
“Ha-ha-ha….” Mereka berdua tertawa senang.
“Liburan kemana Fin?” kata Ardi membuka cerita.
“Aku ke Sumatra, ke rumah nenekku,” Jawab Fino.
“Kalau kamu kemana Ar?” timpal Fino semangat.
“Aku ke Yogya, ke rumah nenekku juga. Sungguh, kali ini aku punya cerita yang pasti membuat heboh kelas ini.” kata Ardi lebih semangat.
“Wah, seru kedengarannya, ayo cerita dong.” kata Fino.

Lalu mengalirlah cerita Ardi. Beberapa teman yang baru datang ikut bergabung. Mereka menjadi pendengar yang baik saat Ardi bercerita.
“Di Yogya, ada sebuah tempat. Tempat itu sangat misterius dan penuh dengan hal-hal mistis.” Ardi mulai membuka ceritanya.
“Apaan tuh mistis? Ujar Amir yang baru datang.
“Yah…ente, mistis itu hal-hal yang berbau gaib. Setan-setan gitu..” jawab Fauzan.
“Hiiiy..” teriak mereka kompak.

Ardi melanjutkan ceritanya. Teman-temannya mendengarkan dengan serius.
“Kalian senang pergi ke pantai?” tanya Ardi.
“Ho oh…” kata teman-teman Ardi sambil menganggukkan kepala.
“Nah… konon ceritanya di Yogyakarta ada pantai yang namanya Parang Tritis. Pantai tersebut merupakan salah satu deretan dari Pantai Selatan. Ombaknya besar-besar. Kadang tenang, tapi ternyata ganas. Di tempat itulah seriiiiiing…. banget ada korban manusia yang meninggal dunia setiap tahunnya.”
“Ah, beneran Kau Ar?” kata Fino dengan logat Sumatranya.
“Cius….sumpah!” kata Ardi sambil memasang wajah serius beneran.
“Korban yang dipilih biasanya para wisatawan yang nggak menutupi auratnya, ataupun wisatawan yang memakai baju hijau.. Saat mereka mendekat ke pantai, tiba-tiba saja ombak yang besar datang bergulung-gulung dan membawa mereka pergi ke tengah lautan. Kalau sudah begitu, pasti wisatawan itu menjadi korban dan tidak selamat.” lanjut Ardi.
“Trus Ar, kenapa yang dipilih wisatawan yang seperti itu? Trus siapa sebetulnya yang meminta korban?” tanya Fauzan.
“Nah, itu dia Fau, kata orang sana sih penguasa pantai selatan alias Ratu Roro Kidul yang meminta tumbal. Penduduk setempat saja sering memberikan sesajen untuk menghindari korban. Kalau lupa tidak memberikan sesajen, pasti deh, ada korban. Itu sih kata orang-orang sana, aku setengah percaya setengah tidak” jelas Ardi.
Teeet… bel masukpun berbunyi. Mereka terpaksa bubar.
“Baik, teman-teman kita lanjutkan nanti ceritanya yaa…”kata Ardi
“Yaaaah, lagi seru… Oke deh, kita ketemu lagi nanti istirahat ya. Di perpustakaan aja ya, biar asik.” kata Amir.
“Setujuuu…” jawab mereka kompak.
Merekapun bergegas untuk mengikuti upacara di lapangan, sambil menyisakan rasa penasaran yang ada pada pikiran mereka. Tak sabar rasanya ingin mencari tahu kebenaran cerita Ardi itu.

Jam istirahat tiba. Ardi, Fino, Amir, dan Fauzan beramai-ramai menuju ke perpustakaan yang terletak di lantai dua. Untuk mengobati rasa penasarannya, mereka mencari bacaan tentang Pantai Selatan. Setelah melihat-lihat, ternyata mereka belum berhasil juga menemukan jawabannya, “Mengapa korban selalu rutin setiap tahun ada di pantai tersebut?”
Tak patah semangat, buku ensiklopedia mereka ubek-ubek. Namun belum juga menemukan hasil. “Oh pantai Selatan, benarkah ada hal-hal mistis menyelimutimu?” cetetuk Fino.
“Eh teman, itu ada Pak guru sedang membaca koran, kita tanya yuk.mungkin beliau tahu jawabannya.” saran Fauzan.
“Assalamu’alaikum, Pak Adit.” sapa anak-anak.
“Wa’alaikum salam. Eh Ardi dan teman-teman. Apa kabar kalian?”
“Alhamdulillah baik, Pak. Bapak, boleh kita tanya tanya sesuatu?”
“Hmm..boleh-boleh, kebetulan Bapak sedang baca koran aja.” jawab Pak Adit.
Lalu, Fauzan dan Ardi mulai bercerita mengenai misteri pantai selatan. Kebetulan Pak Adit dulu pernah tinggal di Yogya jadi tahu cerita tersebut. Dengan tersenyum Pak Adit menjelaskan segala sesuatunya.
“Anak-anak yang sholih, menurut hasil penelitian berdasarkan ilmu pengetahuan, penyebab utama hilangnya sejumlah wisatawan di Pantai Parang Tritis adalah ‘Rip Current’, yaitu arus balik yang merupakan aliran air gelombang datang yang membentur pantai dan kembali lagi ke laut. Arus itu bisa menjadi amat kuat karena biasanya merupakan pertemuan dua atau lebih gelombang datang. Dengan kecepatan mencapai 80 kilometer per jam, arus balik itu tidak hanya kuat, tetapi juga mematikan. Celakanya, arus balik terjadi begitu cepat, bahkan dalam hitungan detik. Arus itu juga bukan hanya berlangsung di satu tempat, melainkan berganti-ganti lokasi sesuai dengan arah datangnya gelombang yang juga menyesuaikan dengan arah hembusan angin dari laut menuju darat.
Korban mudah terseret arus balik karena berada terlalu jauh dari bibir pantai. Ketika korban diterjang arus balik, posisinya akan mudah labil karena kakinya tidak memijak pantai dengan kuat. “Karena terseret tiba-tiba dan tidak bisa berpegangan pada apa pun, korban menjadi mudah panik, dan tenggelam karena kelelahan,” lanjutnya. Kalau korban tetap tenang saat terseret arus, besar kemungkinan baginya untuk kembali ke permukaan. Karena arus berputar di dasar laut sehingga benda-benda di bawah bisa naik lagi.
Setelah mengapung, korban bisa berenang ke tepi laut, atau membiarkan diri terhempas ke pantai oleh gelombang datang lain. Setidak-tidaknya, korban memiliki kesempatan untuk melambaikan tangan atau berteriak minta tolong.” Jelas Pak Adit panjang lebar.
“Wah, menakjubkan. Hebat sekali ya si ‘Rip Current itu’.” Kata Amir
“Menarik sekali, mungkin orang-orang suka mikir yang aneh-aneh sih.” timpal Ardi.
“Nah, itu karena pengetahuan mereka terbatas, sama kayak kita, hehe….” kata Fino
Pak Adit tersenyum sambil mengelus-elus kepala mereka.
“Namun memang kepercayaan penduduk terhadap hal yang ghaib memang cukup kental. Kalian percaya dengan hal ghaib?” Pak Adit melanjutkan.
“Hmm…kalau jin, malaikat itu hal ghaib bukan ya Pak?” Fauzan balik bertanya.
“Benar Fauzan, jadi walau bagaimanapun kita tetap hormati kebiasaan penduduk setempat yang percaya dengan hal ghaib tersebut ya. Yang dilarang adalah menjadikan hal-hal selain Tuhan menjadi sesembahan kita. Itu yang dalam agama kita dilarang. Apakah kalian sudah mengerti?” Jelas Pak Adit.
Kami semua mengangguk-angguk tanda mengerti.
“Alhamdulillah, iya pak kami mengerti. terima kasih Pak. Misterinya terpecahkan. Ternyata penjelasan secara ilmiahnya seperti itu. Kami akan lebih berhati-hati jika suatu saat berkunjung ke jajaran pantai selatan.” kata Ardi.
“Pak Adit bangga punya murid seperti kalian. Subhanallah…seperti empat sekawan ya, selalu mencari tahu kebenaran dan pengetahuan yang terjadi di sekitar kalian. Itu tandanya kalian peduli, peduli akan ilmu pengetahuan. Pro aktif, karena tidak menelan infromasi mentah-mentah tanpa dicari kebenarannya dulu. Hebat !” kata Pak Adit.
Anak-anakpun tersenyum dan mengucapkan terima kasih atas informasi berharga yang telah mereka dapatkan. Bel masukpun berbunyi. Dengan semangat, mereka kembali lagi ke kelas, tak sabar untuk berbagi cerita kepada yang lain. ** REA