Oleh : Adora Rinanda

Jika ayah dan bunda ditanya mengenai perasaan setelah buah hati lahir dengan selamat, maka pasti rasa bahagia yang muncul. Sejatinya, itulah pengalaman terindah dalam hidup setiap orangtua di dunia. Terlebih jika anak yang dilahirkan sehat wal’afiat, tidak ada cacat pada tubuh.

Pada kenyataannya, ada sebagian pasangan suami istri yang dikaruniai seorang anak dengan kebutuhan khusus. Jika demikian, kelahiran sang buah hati tidaklah menjadi berita suka cita. Justru sebaliknya, seolah-olah dunia runtuh.

Kemudian muncul pertanyaan demi pertanyaan dalam pikiran mereka,

“Apa yang telah kami perbuat?”
“Kenapa Allah menitipkan anak seperti ini kepada kami?”
“Apakah kami, orangtua yang sedang dikutuk?”
“Kenapa Allah memberikan cobaan seberat ini?”

Reaksi para orangtua dalam menerima Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) biasanya berbeda-beda. Tidak mudah bagi orangtua ketika memperhatikan proses tumbuh kembang buah hatinya berbeda dengan anak sebaya lainnya.

Ada pula orangtua yang merasa terbebani sebab realita jauh sekali dari harapan. Manusiawi jika muncul perasaan syok, kecewa, dan tidak percaya. Tak jarang timbul emosi-emosi negatif, seperti menyesal, marah, menyalahkan diri sendiri atau menyalahkan pasangan, dan ada juga yang berpikir bahwa anaknya terkena guna-guna atau sihir.

Setiap keluarga punya proses adaptasi masing-masing. Proses ini sangat bergantung pada kepribadian dan kemampuan orangtua dalam menyesuaikan diri. Jika tahap penolakan ini terus berlanjut, maka akan semakin memperburuk kondisi anak yang berkebutuhan khusus. Bagi para orangtua, segeralah mengubah cara pandang, pola pikir, dan perilaku agar tak larut dalam kesedihan yang berkepanjangan. Segera temukan, arahkan, dan kembangkan potensi anak.

Cintai anak apa adanya dan bukan ada apanya

Mencintai dan menerima anak apa adanya adalah syarat dan bentuk rasa syukur orangtua kepada Sang Khalik. Cobalah menerima kenyataan bahwa ABK merupakan bagian dari keluarga. ABK biasanya peka perasaannya. Penerimaan dan penolakan dari lingkungan sangat mereka rasakan, apalagi jika penolakan itu datang dari orangtuanya.

Hilangkanlah rasa kecewa sekecil apa pun, selalu berpikir positif, bahwa Allah SWT telah memilih kita sebagai orangtua istimewa sehingga Allah SWT memantaskan kita untuk diamanahi anak istimewa.

Jangan pernah membandingkan dengan anak-anak lain. Keikhlasan orangtua akan memberikan dampak lebih nyata terhadap kemajuan anak. Bahkan seorang profesional seperti psikolog, dokter atau guru setara nilainya dengan orangtua yang ikhlas menerima anak berkebutuhan khusus.

Proaktif  mencari informasi dari sumber terpercaya

Jika anak memperlihatkan kondisi yang tidak sesuai dengan tahapan tugas perkembangan seusianya dan terindikasi mengalami kebutuhan khusus, orangtua tidak boleh menutup mata dan bersikap pasif.

Kapan anak mulai merangkak, duduk, atau berjalan?
Apakah ada tugas perkembangannya yang terlompati atau tidak dialaminya?
Di usia berapa anak mulai mengoceh, berbicara?
Apakah anak mendengar dan menunjukkan respon saat dipanggil namanya?
Adakah kontak mata saat anak diajak bicara orangtuanya?

Orangtua harus proaktif dalam mencari dan menggali informasi sebanyak mungkin tentang kekhususan anak dan penanganannya.

Manfaatkan semua hal yang ada, mulai dari keluarga, dokter, terapis, dan lainnya. Jangan sungkan untuk bertanya banyak hal melalui tenaga profesional, seperti dokter anak, psikiater, psikolog, terapis, dan pendidik. Tambah wawasan dengan memanfaatkan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Bersambung…