Apakah permainan tradisional masih dikenal anak-anak gen Y dan gen Z?

Selain lagu anak-anak, permainan tradisional juga mulai dilupakan bahkan tak banyak anak-anak zaman sekarang yang tahu apa saja permainan terkenal pada kisaran tahun 1960-1990.

Mayoritas anak-anak yang lahir pada tahun 2000-an lebih mengenal permainan yang menggunakan teknologi ketimbang permainan tradisional, seperti gobak sodor, bentengan, petak umpet, ular naga, dll.

Ternyata, permainan tradisional sudah kalah dengan permainan berbasis teknologi seperti mobile legend, Clash of Clans, Clash Royal, dll.

Salah satu alternatif solusi yang bisa digunakan oleh orang tua adalah dengan menggunakan permainan tradisional. Permainan yang diwariskan dan turun-temurun dari nenek moyang kita ternyata mengandung muatan karakter positif, yaitu karakter sosial.

Tumbuhkan Karakter Sosial

Permainan tradisional bisa menumbuhkan karakter sosial anak karena permainan tradisional biasanya dimainkan oleh banyak anak yang memungkinkan terjadinya interaksi sosial.

Bermain bersama kawan-kawan dapat melatih anak bekerjasama, menyesuaikan diri, melatih anak dalam berinteraksi, melatih anak mengontrol diri, melatih anak berempati, melatih anak menaati aturan dan melatih anak menghargai orang lain.

Latih Kreativitas Anak

Permainan tradisional dapat mengasah kreativitas anak, kedisiplinan, dan sportifitas. Anak akan belajar membuat peraturan sendiri yang disepakati bersama, melatih daya imajinasi dalam menggambar, dll.

Berada di era millenial bukan berarti susah untuk mengenalkan permainan tradisional kepada anak-anak. Justru ketertarikan anak-anak terhadap permainan tradisional bisa dibilang tinggi karena sesuatu yang baru bagi anak-anak.