Anemia adalah suatu keadaan dimana kadar hemoglobin (Hb) di dalam darah lebih rendah dibanding nilai normal untuk kelompok orang menurut umur dan jenis kelamin. Secara umum, penyebab utama terjadinya anemia adalah defisiensi zat besi sehingga defisiensi zat besi dan anemia sering diartikan sama. Menurut WHO , remaja putri dapat dikatakan anemia apabila kadar Hb-nya < 12,0 g/l.

Remaja putri termasuk usia yang rawan terhadap defisiensi gizi khususnya defisiensi zat besi. Persentase anemia yang cukup tinggi pada remaja putri itu terutama disebabkan oleh keluarnya banyak darah saat menstruasi yang tidak disertai dengan pola makan bergizi seimbang.

Pada saat remaja putri sedang dalam masa pertumbuhan puncak (peak growth) dibutuhkan zat besi yang lebih tinggi untuk pertumbuhan dan perkembangan. Satu tahun setelah peak growth, remaja putri biasanya akan mengalami haid pertama dimana Kebutuhan zat besi yang tinggi pada saat peak growth akan menetap karena selanjutnya diperlukan untuk menggantikan zat besi yang hilang pada saat menstruasi.

anemia gizi besi dikalangan remaja jika tidak tertangani dengan baik akan berlanjut hingga dewasa. Anemia pada remaja dapat meyebabkan keterlambatan pertumbuhan fisik, gangguan perilaku serta emosional. Hal ini dapat
mempengaruhi proses pertumbuhan dan perkembangan sel otak sehingga dapat menurunkan daya tahan tubuh, mudah lemas dan lapar, konsentrasi belajar terganggu, prestasi belajar menurun serta dapat menurunkan produktivitas. Sebagai efek jangka panjang dari anemia, remaja putri sebagai calon ibu yang akan melahirkan generasi penerus bangsa dikhawatirkan akan memberi kontribusi besar terhadap angka kematian ibu, bayi lahir prematur, dan bayi dengan berat lahir rendah.

Faktor penyebab anemia yang paling umum adalah kekurangan beberapa vitamin atau mineral tertentu yang memiliki peran penting membuat sel darah merah, seperti zat besi, asam folat (vitamin B9), vitamin B12 dan dan vitamin C. Tabel Angka Kecukupan Gizi (AKG) mengatakan bahwa kebutuhan zat besi remaja perempuan usia 13-29 tahun adalah 26 mg. Zat besi, asam folat (B9) dan vitamin B12 berfungsi dalam pembentukan keping sel darah merah. Vitamin C dapat meningkatkan penyerapan zat besi terutama zat besi yang berasal dari tanaman.

Kebutuhan akan zat besi, asam folat, B12 serta vitamin C ini dapat terpenuhi dari kelompok makanan protein tinggi, kacang kacangan, sayuran hijau serta buah buahan. jenis makanan protein tinggi seperti telur, daging merah, dan ikan. Sayuran hijau seperti bayam, asparagus, brokoli, lobak, selada, kucai, brokoli, bit. buah yang termasuk dalam keluarga sitrus, antara lain jeruk, lemon, jeruk nipis, dan jeruk bali. Selain itu alpukat, tomat, buah bit, pepaya, pisang, dan melon jingga. jenis kacang kacangan antara lain kacang tanah, kacang merah, kacang tolo, kacang hijau, kacang polong, dan kacang walnut.

Konsumsi makanan dengan gizi seimbang sejak usia dini akan dapat mencegah kekurangan zat gizi yang menyebabkan anemia ini. Gizi seimbang di dapatkan dengan mengkonsumsi makanan dari berbagai kelompok makanan yang berbeda dengan porsi yang sesuatu dengan kelompok.usia. Makanan tersebut terdiri beragam jenis nutrisi, termasuk protein, karbohidrat, lemak, serat, mineral, dan vitamin.

Pada menu gizi seimbang, kebutuhan karbohidrat satu hari 3-4 porsi. Seberapa banyak takaran per porsinya akan tergantung dari apa pilihan makanan pokok Anda. Satu porsi nasi yang ideal berukuran sekitar 100 gram. Jumlah ini setara dengan 1 buah ubi ukuran sedang (135 gram) dan 1 potong singkong seberat 120 gram. Satu porsi nasi ini juga sama dengan 2 buah kentang ukuran sedang dengan total berat 210 gram.

Porsi buah dan sayur yang disarankan: 3-4 porsi sayur dalam satu hari. satu porsi sayur setara dengan 100 gram sayur tanpa kuah atau satu mangkuk ukuran sedang. Sedangkan porsi buah disarankan 2-3 porsi dalam satu hari. Dimana satu porsi buah Setar dengan 100-150 gram.

Porsi protein yang disarankan: 2-3 porsi makanan sumber protein setiap hari baik protein hewani dan nabati. contoh Satu porsi ikan Setar dengan 100 gram. tempe 50 gram, tahu 100 gram, telur 100 gram.

Membatasi jumlah gula, garam, dan minyak yang disarankan: maksimal 4 sdm gula, 1 sdt garam, dan 5 sdm minyak dalam satu hari.

Pencegahan anemia bisa dilakukan sejak dini. Kenalkan makanan bergizi seimbang sejak anak mulai belajar makan sebagai bentuk investasi sehat sejak dini.

Yasmina Foundation sebagai lembaga yang fokus terhadap bidang gizi melakukan upaya peningkatan gizi untuk anak usia dini dengan nama “Program Edukasi Gizi Isi Piringku”. Program ini telah bekerjasama dengan Danone Indonesia serta Instansi Pemerintah setempat sejak tahun 2018 dan saat ini telah ada sekitar 250 PAUD yang dibina dan tersebar di Kota Bogor, Kabupaten Bogor, Kabupaten Sukabumi dan Kota Administrasi Jakarta Timur.

Program edukasi gizi isi piringku ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas guru PAUD untuk mengintegrasikan edukasi gizi dalam kegiatan belajar mengajar untuk anak usia dini serta melatih guru mampu menjadi pengisi dalam kegiatan kelas parenting kepada orang tua siswa.

Selamat Hari Gizi Nasional ke – 61,

Gizi Seimbang, Remaja Sehat, Indonesia Kuat

#mudasehatbebasanemia