Boleh saja ibu hamil berpuasa, asal sudah memastikan kondisi kesehatannya terlebih dahulu ke dokter kandungan. Kalau tidak memungkinkan, lebih baik tidak memaksakan diri berpuasa. Sebab, dikhawatirkan dapat membahayakan janin.

Maka sebaiknya para calon bunda mertimbangkan beberapa kondisi kesehatan berikut ini, sebelum memutuskan tetap menjalankan ibadah puasa.

1. Diabetes

Diabetes mellitus gestational adalah jenis yang hanya muncul pada kehamilan, disebabkan oleh perubahan hormon saat hamil, yang membuat kerja insulin tidak efektif. Gangguan ini mengakibatkan calon bunda berisiko mengalami preeklampsia, abortus, kelahiran prematur, perdarahan  setelah anak lahir.

Sedangkan janin, bisa terhambat pertumbuhannya, mengalami risiko kematian dalam kehamilan, memiliki berat badan berlebih saat lahir, dan kelainan bawaan, seperti spina bifida, bibir sumbing, dan hidrosefalus. Untuk mengantisipasi gangguan ini, sebaiknya Bunda melakukan skrining dengan pemeriksaan tes toleransi glukosa oral (TTGO) pada usia kandungan 24-28 minggu, atau saat kontrol pertama kali.

Bila risiko diabetes tinggi, maka lakukan diet gizi seimbang, olahraga ringan, dan terus memantau kenaikan berat badan secara berkala. Jika Bunda sudah terkena diabetes, selalu periksakan diri ke dokter. Biasanya, dokter akan memberikan insulin untuk menjaga gula darah tetap normal.

Jika Bunda ingin berpuasa, sebaiknya ada penilaian secara berkala tentang pertumbuhan janin dan kondisi gula darah. Jika semua indikatornya baik, maka Bunda diperbolehkan puasa.

2. Darah tinggi

Darah tinggi bisa menyebabkan calon mama kejang, mengalami perdarahan usai melahirkan karena terbukanya pembuluh darah pada rahim tempat plasenta melekat, atau karena robekan yang terjadi saat Bunda melahirkan melalui prosedur episiotomi (sayatan pada jalan lahir).

Darah tinggi juga bisa mengakibatkan pertumbuhan janin terhambat, kelahiran prematur, dan kematian janin dalam rahim sebelum persalinan. Untuk mengatasinya, lakukan kontrol tekanan darah, kenaikan berat badan selama hamil, diet gizi seimbang, dan konsumsi suplemen yang mengandung vitamin, juga miktonutrien untuk ibu hamil.

Sedangkan jika Bunda sudah mengidap darah tinggi, minum obat yang diberikan oleh dokter. Jika ada hambatan pertumbuhan janin, maka dokter akan mempertimbangkan apakah kehamilan harus dihentikan atau boleh dilanjutkan. Bila Bunda ingin puasa, lakukan kontrol secara berkala. Selama kondisi pertumbuhan janin, dan tekanan darah tak masalah, boleh puasa,

3. Perdarahan

Perdarahan di trimester awal berisiko terjadinya keguguran. Sedangkan perdarahan di trimester akhir bisa terjadi karena plasenta menutupi jalan lahir (plasenta previa) atau plasenta terlepas sebelum kelahiran (solusio plasenta).

Perdarahan yang hebat dapat menyebabkan kematian calon mama atau pun janin. Bila terjadi perdarahan pada awal kehamilan, Anda diharuskan istirahat total dan melakukan kontrol teratur. Bunda harus mengetahui penyebab perdarahannya lebih dahulu untuk menentukan apakah bisa berpuasa atau tidak.

4. Gangguan pencernaan

Gangguan pencernaan yang sering dialami ibu hamil antara lain konstipasi atau sembelit. Ini terjadi karena peningkatan hormon progesteron selama kehamilan, sehingga dapat memperlambat gerakan peristaltik usus.

Hal tersebut bisa membahayakan, karena mungkin menghambat penyerapan nutrisi sehingga menyebabkan janin gagal tumbuh, gagal fungsi organ, atau bahkan mengalami kematian.

Untuk mencegah gangguan ini, konsumsi serat yang cukup, sesuai dengan pedoman gizi seimbang. Minumlah probiotik secara teratur, dan lakukan olahraga ringan teratur. Bunda boleh puasa selama dokter menyatakan dalam kondisi tidak gawat.

5. Dehidrasi

Dehidrasi akan berdampak kepada penurunan jumlah air ketuban, serta bisa menghambat pertumbuhan janin. Untuk mencegahnya, penuhi kebutuhan cairan, sekitar 2-3 liter per hari, selama hamil. Bunda boleh puasa, asal target jumlah cairan 2-3 liter per hari terpenuhi.

 

*Referensi: ayahbunda.co.id