Gizi untuk anak usia sekolah berbeda dengan gizi anak pada usia sebelumnya. Di usia sekolah, organ tubuh mulai berkembang, aktivitasnya pun mulai bertambah.

Selain zat gizi makro, anak usia sekolah sangat membutuhkan zat gizi mikro seperti zinc, zat besi, vitamin B dan C sebagai energi dalam melakukan kegiatan harian di sekolah dan aktivitas di luar ruangan. Zat-zat tersebut diperlukan untuk mendukung konsentrasi anak saat belajar dan membantu memperkuat daya tahan tubuh.\

1. Efek Anemia

Kekurangan zat gizi  mikro akan berdampak  luas bagi kesehatan seperti anemia, gangguan akibat kurang yodium, dan kurang vitamin A. Di Indonesia, anemia masih menjadi masalah kesehatan masyarakat dengan prevalensi anak usia 5 – 14 tahun sebesar 26,4 persen (RISKESDAS 2013).

Anemia pada anak ditandai dengan malas beraktivitas, mudah lelah, lemas, kulit dan kuku pucat, sesak napas, penurunan berat badan, selera makan dan kekebalan tubuh menurun, dan perilaku makan yang tidak baik.

2. Perkembangan Otak Terganggu

Dampaknya bagi perkembangan otak pun jadi buruk. Impuls saraf terganggu, sulit konsentrasi, dan daya ingat rendah. Kalau anak malas belajar, cari solusinya.

Kemungkinan ia kurang nutrisi. Perlu diperhatikan bahwa malanutrisi tidak hanya terjadi di pedesaan tetapi juga di perkotaan. Kegemukan dan obesitas juga termasuk malnutrisi. Malnutrisi adalah asupan gizi yang tidak seimbang.

3. Orangtua Paham Tahap Perkembangan Anak

Para orangtua wajib memahami perkembangan anak. Perkembangan anak harusnya diikuti dengan perubahan orangtua dalam memahami perannya. Saat anak berusia 0 sampai 2 tahun, peran orangtua seperti babysitter.

Di usia 3 sampai 5 tahun, peran orangtua berubah lagi. Di usia 5 tahun ke atas peran orang tua juga harus berubah lagi. Di usia di atas 5 tahun orientasi tuntutan akademik berpusat pada teman. Terjadi perubahan kognisi, sosial dan psikomotor, yang berdampak pada bertambahnya kegiatan dan aktivitas fisik anak.

4. Selalu Sediakan Makanan Sehat

Menyediakan makanan sehat pada anak usia sekolah  harus dilakukan dengan pendekatan rasional. Anak tidak lagi menerima begitu saja apa yang disediakan oleh orangtuanya. Kita tidak bisa lagi mengatakan, ini nak, ayo makan.

Di usia sekolah anak akan selalu bertanya, kenapa saya harus makan ini? Sediakan makanan sehat karena dengan mengonsumsi makanan sehat, anak akan mengetahui tentang dirinya jauh lebih baik. Kalau anak malas beraktivitas, jangan buru-buru memanggil guru les untuk menambah jam belajarnya. Cek dulu kecukupan gizinya.