Seperti yang dikutip dari www.parents.com, berdasarkan penelitian dari Children’s National Medical Center dan George Washington University,AS, terdapat 17% anak-anak berusia 4 tahun mengalami sakit kepala dan migrain.

Kondisi ini bahkan sangat berpengaruh pada pertumbuhan anak setara dengan penyakit asma, alergi, obesitas, dan gangguan psikologi. Bayi pun bisa terkena migrain, meskipun orang tuanya mungkin sulit memahami keluhan itu.

Ketahui penyebabnya

Terjadi ketika mulai timbul gejala flu, tapi beberapa anak bisa mengalami sakit kepala meskipun virus flu sudah hilang, dengan intensitas tidak lebih dari 30 menit.

Riwayat keluarga. Jika orang tua sering mengalami sakit kepala maupun migrain, bisa jadi hal tersebut juga diturunkan kepada anaknya.

Faktor stres bisa jadi pemicu,terlebih jika suasana rumah yang tidak nyaman, orang tua yang sering bertengkar di depan anak-anak mereka, perubahan kegiatan rutin, seperti kembali bersekolah setelah liburan, fluktuasi cuaca, kurang tidur, dan terlambat makan.

Jangan sembarangan beri obat

Jangan pernah memberi aspirin kepada anak-anak di bawah usia 15 tahun, sebab bisa menyebabkan sindroma Reye atau penyakit yang dapat mengancam jiwa dan merusak hati dan otak.

Konsultasikan ke dokter

Apabila anak mengalami sakit kepala lebih dari satu kali selama seminggu. Terlebih, jika sakit kepalanya disertai dengan mual dan muntah-muntah.

Ajak anak tidur siang

Usahakan suasana ruangan dalam keadaan gelap, sejuk, dan hening. Ini akan membantu menenangkan pembuluh darah yang tegang di otak anak.

Jika dia sulit tidur, alihkan perhatiannya dari rasa sakit tersebut dengan membacakan buku cerita. Tenangkan pikirannya, agar iat idak merasa takut dan menangis menahan sakit.

Lakukan pencegahan sebelum terjadi

Buat anak agar memiliki waktu tidur yang cukup. Biasakan hidup dan makan makanan sehat yang dibuat sendiri di rumah oleh Ibu. Ajak anak tetap aktif dalam kegiatan sekolah dengan pantauan guru dan kontroling orangtua. Perbanyak konsumsi makanan yang mengandung vitamin D.