Oleh: Iis Istiqamah

Film Are You Smarter than Fifth Grader? – Belajar dan kita

Pernah nonton tayangan Are you smarter than a 5th grader? Cukup mengundang senyum menyaksikan kemampuan anak saat ini. Dan juga terkaget-kaget barangkali melihat materi pelajaran SD yang berkembang jauh lebih sulit dibanding semasa angkatan saya sekolah (tahun 80an).

Ada dua catatan yang saya renungkan dari tayangan ini. Pertama:  tayangan ini menyadarkan saya sebagai orangtua bahwa kita tetap perlu belajar. Pengetahuan kita sebagai manusia, sebagai orang dewasa juga terbatas. Kalau ditanya berapa ukuran lapangan gobak sodor (hayo…berapa?), wah, kita bukan orang yang ahli untuk menjawabnya. Dalam konteks lebih jauh saya belajar tidak sombong sebagai orang dewasa yang mungkin lebih dulu dapat pengetahuan, lebih dulu lulus sekolah, tetapi ternyata ilmu kita ini tetap sedikit saja yang bisa kita kuasai.

Lebih nyaman jika saya menyebutnya bahwa kita harus menjadi lifelong learner. “Bimaa kuntum tu’allimuunal kitaab wa bimaa kuntum tadrusuun” (mempelajari-mengajarkan). Orang yang suka belajar sepanjang hidup. Dimana saja, kapan saja dan dengan siapa saja menggunakan apa saja. Termasuk dengan anak-anak kita. Mereka juga guru bagi kita. Guru kearifan yang memberikan makna yang berbeda pada kebiasaan yang sudah mengakar dalam jiwa kita sebagai orang tua. Kadang, anak menarik kesimpulan dalam sisi yang berbeda dengan pandangan kita sebagai orangtua yang relatif stagnan.

Tidak mudah mendapatkan sight  yang berbeda dari sesuatu yang sudah terpatri dalam otak kita. Oleh karena itu, dengan belajar memahami anak-anak, sebenarnya kita bisa belajar tentang banyak kearifan. Sesuatu yang memalukan bagi masa lalu kita dapat menjadi menyenangkan dan ingin dimiliki pada masa kanak-kanak anak kita. Seorang teman menceritakan masa kecilnya yang menjengkelkan karena diminta orangtuanya menggembalakan kambing. “Pemaksaan terhadap anak kecil”, itu pikirannya di masa lalu. Tetapi, apa komentar anak-anaknya? “Wah, menyenangkan sekali masa kecil mama bisa merawat kambing, memberi makan, cari rumput.”..Waww..

Hal kedua yang saya pelajari dari tayangan TV di atas tadi, adalah semakin rumitnya kurikulum belajar anak-anak SD. Bahkan, anak kelas satu SD sudah dapat teori luas lapangan olah raga dalam kurikulumnya. Kadang, terbesit rasa kaishan melihat isi dan muatan tas anak SD yang penuh, sampai mereka keberatan menggendongnya. Jika saya ingin menjadi manusia pembelajar, yang menurut Andreas Harefa memiliki tiga karakteristik utama, yaitu pembelajar sepanjang hayat, mengembangkan potensi diri dan mengerahkan seluruh kemampuan terbaik dalam mengemban tanggung jawab, maka saya ingin juga anak-anak menjadi manusia pembelajar. Masa kecil mereka sangat menentukan kecintaan mereka terhadap ilmu. Pelajaran yang terlalu sulit dan dini diajarkan dapatkah membuat mereka menjadi manusia pembelajar yang cinta terhadap ilmu?, atau justru sebaliknya melunturkan mereka untuk mencintai belajar, hanya sekedar dapat mengerjakan tugas saja?… Memang anak yang terlibat dalam acara tersebut terlihat pintar dan cerdas..tetapi bagaimana dengan anak yang lain?..

Pembelajaran SD di Jepang banyak mengajarkan tentang kehidupan termasuk memasak – Belajar dan Kita

Jepang sebagai negara maju saja mulai mengurangi mata pelajaran akademik bagi siswa SD nya. Hal itu karena muatan dan beban mata pelajaran yang berat ternyata mengurangi motivasi anak untuk senang belajar. Mengapa kita justru menambah beban pelajaran akademik?.

Mari kita buat suasana dan pendidikan yang menyenangkan di usia dini anak-anak kita supaya mereka cinta belajar sesuai dengan apa yang perlu dikuasai di zamannya, alih-alih mengajarkan semua pengetahuan di usia dininya sekarang.