Siapa orangtua yang tidak senang bila anaknya hobi membaca buku? Pengetahuan yang tidak bisa digantikan dengan gawai, ada semua di dalam buku.

Bagaimana caranya agar ketika dewasa, anak sudah mencintai aktivitas membaca buku tanpa perlu diminta secara khusus oleh orangtua?

1.Bacakan buku sejak anak baru lahir

Orangtua tidak perlu menunggu anak berusia lima/enam tahun untuk bisa membacakan sebuah buku. Prosesnya bisa dimulai dari mengenalkan aktivitas membaca kepada anak sejak awal kelahirannnya.

Sebab perkembangan otak paling pesat terjadi pada rentang usia 0-6 tahun. Delapan puluh persen ukuran otak pada masa dewasa ini ditentukan pada dua tahun pertama. Sayangnya, pendidikan di Indonesia justru dirancang untuk usia enam tahun ke atas.

Pada masa komunikasi prasimbolik, setiap rangsanan komunikasi memberi pengaruh yang sangat besar bagi keterampilan komunikasi anak, termasuk di dalamnya kemampuan berbahasa dan berpikir.

2. Membuat pola baca di rumah

Kebiasaan membaca yang mulai ditanamkan sejak anak baru lahir cenderung membentuk pola membaca pada anak di kemudian hari saat ia beranjak dewasa.

Orangtua bisa membacakan buku setiap kali anak akan tidur. Bacakan buku setiap saat, kapan saja ada kesempatan. Kebiasaan itu nantinya akan menjadi karakter bagi anak asalkan orangtua komitmen dan konsisten melakukannya.

3. Bukalah buku bersama anak

Saat usia anak semakin bertambah, orangtua harus mengenalkan aktivitas membaca kepada anak dengan cara yang lebih beragam. Saat anak berusia tiga atau empat bulan, mulai ajak anak untuk membaca buku bersama.

Caranya, dudukkan anak di pangkuan. Letakkanlah ia dengan cara yang membuatnya merasa nyaman. Lalu mulailah dengan basmalah, ajaklah anak berdialog sehingga ia merasa dilibatkan dan memahami apa yang hendak ia lakukan bersama orangtuanya.

Kemudian mulai bacakan buku dengan suara, intonasi, bahkan tampilan wajah yang ekspresif agar menarik minat anak.

4. Berikan buku yang sesuai

Buku untuk bayi sebaiknya menggunakan bahan kertas yang cukup tebal, tidak mudah sobek, kaya warna, dan tidak banyak tulisan. Idealnya, satu buku memuat tidak lebih dari 300 kata.

Atau kalau memang  harus menggunakan banyak kata, kemasannya dirancang agar menarik dilihat. Sayangnya, di Indonesia jarang sekali tersedia buku-buku bayi. Untuk menyiasatinya, orangtua bisa membuat sendiri.

Caranya, ambil kertas karton. Gunting menjadi tiga bagian kertas berukuran 20 cm x 40 cm, masing-masing dilipat sama panjang menyerupai buku. Tempelkan gambar huruf, gambar angka, atau gambar benda yang warnanya mencolok. Bisa juga dengan memberikan tulisan/gambar yang menarik.

5. Pilihlah bacaan yang bergizi

Pastikan juga buku-buku yang dibacakan kepada anak adalah benar-benar buku yang bergizi bagi jiwa, hati, dan pikiran anak. Agar upaya merangsang anak untuk gila membaca benar-benar dapat memberi hasil yang optimal.

Pilihlah buku-buku yang memiliki struktur penceritaan yang sangat kuat. Sebab hal ini akan memberi pengaruh yang luar biasa besar pada kemampuan dan cara berpikir anak.

Selamat mempraktikkan!